Alkisah, Abu Bakar As-Shidiq Radhiyalllahu’anhu hendak berangkat menuju masjid untuk menjadi imam shalat. Ketika melewati rumah putranya Abdullah, ia mendengar suara candaan mesra Abdullah dengan istrinya Atikah, seorang wanita yang cantik sholihah, yang baru saja dinikahi anaknya beberapa waktu lalu. Abu Bakar berlalu saja menuju masjid, dengan harapan sang anak akan segera menyusul bersama orang-orang beriman lainnya untuk melaksanakan sholat fardhu berjama’ah. Baca Lanjutannya…
Ajaklah Anakmu Shalat !
Shalatlah Seperti Rerumputan
Shalatlah seperti Rumputan, begitulah pesan seorang sastrawan muslim, Ahmadun Yosi Herfanda, yang tertuang dalam puisinya “Sembahyang ku Sembahyang Rumputan”. Dalam kelelahan spiritualitasnya, ketika rakaat demi rakaatnya berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, seperti sia-sia; ia menghanyutkan diri dalam lautan tahajud. Mengantarkan dia pada permukaan untuk bertemu pada tuhan. Pertemuan yang begitu indah, hingga tangannya menuntun pena menuliskan bait sajak.. Baca Lanjutannya…
Kiat Bertahajud Sesuai Porsinya
Pada artikel terdahulu, sudah kita simak dua ujung ekstrem (yaitu antara “kurang” dan “berlebihan”) dalam menyambut panggilan Allah di malam hari. Lalu, bagaimana agar kita tidak terjebak di antara dua ujung tersebut? Dengan kata lain, bagaimana menyambut panggilan Allah dengan bertahajud sesuai porsinya?
Kebiasaan Tahajud yang Terlalu Semangat
Pada artikel yang lalu, sudah kita kenali tanda-tanda tahajud yang “kurang merasa terpanggil oleh Tuhan”. Bagaimana dengan tahajud yang “terlalu merasa terpanggil oleh Tuhan”? Ada jugakah?
Ya. Pasukan iblis sangat lihai mengecoh kita dalam beribadah. Bila mereka gagal membuat tahajud kita kurang (“kurang merasa terpanggil oleh Tuhan”), mereka mungkin saja berusaha menjadikan tahajud kita berlebihan (“terlalu merasa terpanggil oleh Tuhan”).
Kebiasaan Tahajud yang Kurang Semangat
Selain dalam hal porsi waktu, mungkinkah kita “kurang merasa terpanggil oleh Tuhan” ketika melakukan tahajud? Ya. Bisa saja itu terjadi.
Sambutlah Panggilan Allah Sesuai Porsinya
Rasulullah saw bersabda: “Tuhan kita kagum kepada dua [macam] orang, [yang pertama] yaitu seseorang yang bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya, di antara para keluarga dan kekasihnya, untuk menghidupkan malam (Qiyamul Lail), kemudian Allah SWT berfirman: “Wahai MalaikatKu, lihatlah hambaKu yang bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya di antara kekasihnya dan keluarganya untuk menghidupkan malam, karena mengharap sesuatu (pahala) dari sisiKu dan belas kasih dariKu …” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la dan ath-Thabrani. Ibnu Hibban juga meriwayatkannya dalam kitab shahihnya dari Ibnu Mas’ud. Al-Albani menganggapnya hasan dalam kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (I: 258)).
Aktivitas “bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya … untuk menghidupkan malam” itu menunjukkan adanya “rasa terpanggil oleh Tuhan”. Sebab, Allah memang sudah memanggil kita, “Hai orang yang berselimut. Bangunlah …” (QS. Al-Muzammil ayat 1-2)
Sedangkan “sesuatu (pahala) dari sisiKu dan belas kasih dariKu” menunjukkan hasil dari tahajud, yang meliputi kekayaan dan kebahagiaan. Jadi, hadits tersebut mengisyaratkan bahwa tahajud yang menumbuh-kembangkan rasa terpanggil ini dapat menghasilkan kekayaan dan kebahagiaan.
Pangkal Sukses dan Bahagia
Subuh baru menjelang. Sebuah waktu yang biasanya masih menghanyutkan sebagian besar kita di alam mimpi atau bahkan melelapkan. Namun, sejak kemarin tak lagi demikian. Sebagian besar kita telah memulai aktivitas sejak dini hari. Ada yang khusyuk tertunduk berdzikir di atas sajadah, ada yang perlahan-lahan mengaji Alquran, ada yang penuh perhatian membangunkan anak-anaknya dan menemani mereka terkantuk-kantuk bersahur.
Haruskah makmum membaca Al-Fatihah?
Bolehkah Kita Tidak Membaca Surat Al-fatiha Pada Sholat Berjama‘ah
Assalamualaikum.wr.wb Pak ustadz yang saya hormati saya mau bertanya tentang kewajiban kita memabca surat Al-fatiha dalam sholat berjama‘a, karena saya pernah membaca bahwasanya kalo di bacakan ayat-ayat Al Qur‘an kita harus diam dan menyimak.ini saya kaitkan dng sholat berjama‘a dimana ketika imam selesai membaca surat Al-fatiha langsung di lanjutkan dng ayat-ayat Al Qur‘an yang lain, biasanya saya di sela-sela saat kalo imam berhenti sebentar saya baca surat Al-fatiha tetapi biasanya kalo imam langsung membaca ayat-ayat ALQur‘an yang lain biasanya konsentrasi saya jadi buyar dan malah sering salah-salah dalam membacanya yang akan saya tanyakan apakah kewajiban membaca surat Al-fatiha dalam sholat berjama‘a bagi ma‘mum tetep di wajibkan kalo enggak gimana dengan syarat syah nya sholat, kan harus membaca surat Al-fatiha? Demikianlah pertanyaan dari saya atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih .
Membaca Buletin Saat Khutbah
Assalamualaikum wr wb. Mendengarkan khutbah Jum’at hukumnya wajib. … Tapi, dalam praktik di depan pintu masjid selalu disediakan buletin yang mengundang kita membacanya.
Bagaimana hukumnya? Kemudian ada jamaah yang terlambat datang ke masjid yakni ia tiba setelah azan berkumandang. Ia ingin shalat sunnah yang mana yang ia boleh lakukan, tahiyatul masjid atau qobliyah Jum’at, bagaimana hukumnya? Terima kasih.
Wassalam
Salat SMART go international
Alhamdulillah, ketika aku beristirahat dari dunia ngeblog, aku mendapat kabar gembira:
Sebentar lagi, buku Pelatihan Salat SMART go international.