M Shodiq Mustika

Archive for Maret, 2007|Monthly archive page

Kenapa sih kita sholat? (part 3)

Dalam 3 - Arungi makna, shalat di 28 Maret 2007 pada 14:13

Coba sekarang kita lihat yang point 4 saja : 

Sholat adalah sarana meminta tolong dan berdoa kpd Allah (QS.40:60)

“Tuhan kamu (Allah) berfirman “Berdoalah kepadaku, niscaya aku perkenankan bagimu”. Sesungguhnya orang-orang yang takabur dari menyembah-Ku, mereka akan masuk jahannam dalam keadaan terhina.

Kalo kita ngga’ sholat berarti ada unsur SOMBONG kan dalam diri kita.. Wah wis hebat ta’ kok berani2nya sombong..? Apalagi kepada Allah sing maring’i urip? Berarti klo ga sholat berarti kita ga’ butuh pertolongan Allah, gitu kan makna yg terkadung di ayat tersebut. Lha wis kendel ta…  untuk berkata demikian..? Kan tentun’e mboten toh…?

Kita masih perlu dan perlu.. banget bantuan pertolongan dari Allah, apalagi doa.. otomatis sik perlu sanget.. Ya kan? Memang ibadah sholat dan ibadah2 lainnya tidak memeberikan hasil yang nyata di dunia ini, abis sholat trus proyek lancar, kaya abis ngadep boss. Tapi amalan dan ibadah ini yang nantinya menemani jalan ruh kita di alam kubur, pada saat yang fana ini sudah kita tinggalkan.

Memang kalau kita makna’i dulu kenapa kita kudu sholat..mungkin dari situ akan muncul kesadaran untuk beribadah bukan beribadah karena takut alasan’e…

Kenapa sih kita Sholat? (part 2)

Dalam 3 - Arungi makna, shalat di 28 Maret 2007 pada 14:05

Referensi Al-Quran untuk sholat :
1. Shalat u/ membangun diri spy taqwa (QS.2:21)

“hai sekalian umat manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang2 yang sebelum kamu supaya kamu bertakwa”

Masih ada referensi lain lagi ga bu?

Kenapa sih harus Sholat? (part 1)

Dalam 3 - Arungi makna, shalat di 26 Maret 2007 pada 12:16

“Shalat adalah suatu ibadat yg dilaksanakan dg anggota lahir dan batin dalam bentuk perbuatan dan perkataan tertentu untuk membentuk kemauan yg kuat dlm diri manusia untuk menyelamatkan umat manusia dari segala penderitaan mereka atau terwujudnya kewajiban hidup mereka”.

Jadi maknanya….

Pahala shalat menghapus dosa ciuman

Dalam 5 - Tebarkan hikmah, shalat di 23 Maret 2007 pada 00:40

Dari Ibnu Mas’ud r.a., sesungguhnya ada seorang lelaki mencium seorang perempuan [bukan istrinya, bukan muhrimnya], lalu dia datang kepada Nabi saw., dan diberitakannya hal itu kepada beliau. Kemudian diturunkan oleh Allah ayat yang maksudnya: “Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan sebentar dari malam hari. Sesungguhnya [pahala] kebaikan [seperti shalat] menghilangkan [dosa] keburukan [seperti ciuman itu].” (QS Hud [11]: 114)

Lelaki itu bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah [fatwa] ini untuk saya saja?”

Baca entri selengkapnya »

Keciprak Wudlu

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 17 Maret 2007 pada 11:43

Wudlu itu adalah awal persiapan kita bertemu, ingat kepada Allah.  Bagian dari pesona ritual wajib sebelum kita masuk pada prosesi shalat.  Karena itu, wudlu harus dinilai sebagai “mengecat” hati dan raga sebelum menemuiNya.

Yah, idealnya begitu.  Karena itu, aku juga ikut-ikutan ‘gelo’ kalau melihat yang wudlu sepenaknya. Baca entri selengkapnya »

Khusyu itu apa ya?.

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 14 Maret 2007 pada 07:36

Kalau kita mendengar atau membaca kata khusyu, apa yang terbayang dalam benak?.

Penuh konsentrasi, sungguh-sungguh, tawadu, ikhlas, pasrah, ridha, rela, tidak mendengar apapun juga, kecuali yang dituju?. Atau apa ya?. Baca entri selengkapnya »

Nilai Dunia dan Seisinya

Dalam 3 - Arungi makna, shalat di 12 Maret 2007 pada 22:47

“Seberapa pentingkah shalat bagi ummat beriman yang beragama Islam?”

“Ya penting to… nggak usah dibahas lagi deh.  Ada seabreg ayat Allah menegasi hal ini.”

“oke deh…”

“Seberapa nilai setiap shalat?.” Baca entri selengkapnya »

Bisnis Bermodal Salat

Dalam 5 - Tebarkan hikmah, shalat di 12 Maret 2007 pada 01:17

Dalam buku E. Kosasih (ed.), “Mukjizat” Salat dan Doa (Bandung: Pustaka Hidayah, 2004), hlm. 23-26, saya jumpai sebuah kisah spiritual menarik yang dialami oleh Sudarto, seorang pengusaha. (Peristiwanya berlangsung selama masa Orde Baru, tetapi masih relevan dengan keadaan kita di zaman sekarang.) Di situ diceritakan bagaimana dia mengatasi tantangan dan persoalan hidup dengan bermodal shalat.

Mau tahu kisahnya? Sebelum menyimak kisahnya, sebaiknya baca lebih dahulu artikel Benarkah dengan bershalat, kita bisa menjadi kaya?.

Baca entri selengkapnya »

Anda Pun Berbakat Cerdas

Dalam 0 - kecerdasan di 10 Maret 2007 pada 18:00

Setiap orang sama-sama memiliki sekitar seratus milyar sel otak. Hanya saja, bukan jumlah sel otak yang menentukan seberapa cerdas Anda, melainkan jumlah koneksi antara sel-sel otak Anda.

Setiap sel otak kita mempunyai banyak “kabel” (cabang) tipis yang pada dasarnya belum saling sambung dengan kabel-kabel sel lain. Setiap kali otak bekerja, terciptalah koneksi antarkabel yang melibatkan banyak sel otak. Semakin banyak otak digunakan, semakin banyak koneksi tercipta di antara sel-sel otak. Semakin banyak koneksi, semakin cerdas.

Potensi sel-sel otak (yang jumlahnya mencapai seratus milyar) itu terlalu besar bila dibandingkan dengan umur manusia (yang rata-rata hanya sekitar seribu bulan). Kalau pun otak kita selalu bekerja keras sepanjang hayat, potensi kecerdasan yang kita gunakan paling-paling masih kurang dari satu persennya.

Oleh karena itu, kemampuan otak pada dasarnya “tak terbatas”. Selama kita terus belajar, selama itu pula koneksi antarsel otak terbentuk. Walhasil, kita bisa cerdas dan lebih cerdas lagi.

Dengan demikian, jelaslah bahwa tidaklah begitu penting persoalan “seberapa cerdas” (atau “seberapa bodoh”) kita. Yang jauh lebih afdol adalah “bagaimana cara belajar yang mencerdaskan kita”, “bagaimana membangkitkan jenis kecerdasan tertentu yang selama ini belum kita kembangkan”, “aktivitas apa yang mampu melejitkan kecerdasan kita”, dsb.

Bila hadirnya hati tak lagi memadai

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 10 Maret 2007 pada 17:56

Ada kalanya, begitu saya mengangkat tangan dan mengucap takbir memulai salat, hati atau perasaan saya langsung mengembara ke mana-mana. Berjalan-jalan ke tempat lain yang tidak ada hubungannya (secara langsung) dengan makna bacaan yang saya ucapkan di dalam salat. Terutama saat saya terlanda masalah kehidupan yang menguras perasaan saya sedalam-dalamnya. Lisan saya melafalkan berbagai kata yang sudah saya hafal di luar kepala, sementara hati saya mengadukan persoalan lain yang sedang saya hadapi. 

Umpamanya, ketika “si dia” ngambek dan memboikot saya, mengadulah saya:

Kuakui, ya Allaah… telingaku kecil sekali, teramat mungil tuk bisa menangkap degup jantungnya. Maka kumohon, pinjamilah aku Telinga-Mu, ‘tuk dengarkan aliran darah merahnya, darah putihnya, sampai kusimak kata-katanya, kalimat-kalimatnya, yang tidak keluar dari bibir merahnya, bibir putihnya.  

Kuakui, ya Allaah… terhadap dia dosaku sangaaat banyak, terhadap dia pahalaku amaaat sedikit. Kini, entah sampai kapan, mana berani ku kembali ke hadirat-Mu, bila dosaku tak terampuni… sebutir sekalipun, bila pahalaku tak mengalir… setetes sekalipun?

Hati saya penuh dengan gejolak perasaan yang sedang mendera. Selalu saja ada dosa yang saya rasa perlu saya mohonkan ampunan. Selalu saja saya merasa ada banyak sekali kesalahan fatal saya yang layak saya sesali. Begitu sibuk hati saya. Tahu-tahu, seusai mengucap salam penutup salat, sajadah dan baju saya sudah basah tertimpa linangan air mata.

Bila Menangis dalam Salat

Menyadari berlinangnya air mata itu, saya sempat Ge-Er (gede rasa). Saya merasa sukses dalam melakukan salat. Namun, belakangan saya sadari, “kesuksesan” saya dalam menghadirkan hati di dalam salat yang dibuktikan dengan berlinangnya air mata itu tidaklah luar biasa. Mungkin saja tangisan di dalam salat itu terjadi bukan karena saya telah berhasil menegakkan salat dengan seutuhnya, melainkan lebih terdorong oleh watak saya yang sentimentil. Toh di luar salat pun saya gampang menangis.

Saat itu, dengan hati yang penuh kemelut, saya ucapkan bacaan salat di dalam salat saya “sebagaimana biasanya”. Tanpa pikir panjang, saya baca surat-surat dari Al-Qur’an yang pendek-pendek (yang sudah saya hafal di luar kepala) seperti al-Ikhlāsh, an-Nashr, al-Lahab, dan al-Kāfirūn. Begitu saja.

Memang sih, saya sampai meneteskan air mata. Namun, tangisan saya di dalam salat waktu itu tidak berhubungan dengan bacaan salat yang saya ucapkan. Meskipun sudah mengerti terjemahan kata-kata yang saya ucapkan itu, saya kurang menaruh perhatian pada relevansinya dengan luka jiwa yang menganga di hati saya. Apa akibatnya? Bukannya menyelesaikan masalah sebaik-baiknya, saya malah kian terjerat.

Bila Emosi Menjerat Diri

Ketika membaca surat al-Kāfirūn [109], misalnya, hawa nafsu (dan/atau pasukan iblis) menggiring saya untuk mengidentifikasi “si dia” sebagai “orang yang ingkar (kafir)”. Maka membaralah di hati saya: “… Hai orang-orang yang ingkar! Aku tidak mengabdi apa yang kamu abdi. … Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Dengan hati yang membara begitu, tanpa saya sadari, kecerdasan sosial (pergaulan) saya tidak berkembang. Walhasil, masalah yang saya hadapi ini bukannya mereda, melainkan justru kian parah. Perasaan saya semakin kalut, sementara perseteruan kami kian meruncing. Kejayaan dunia-akhirat di bidang pergaulan pun menjauh dari saya.

Maka celakalah pelaku salat, yang membiarkan salatnya [begitu saja], yang memperagakannya belaka, dan enggan [memanfaatkannya untuk] sesuatu yang berguna. (QS al-Mā’ūn [107]: 4-7)

Solusi Bila Hadirnya Hati Tak Lagi Memadai

Belakangan—alhamdulillāh—pengerahan akal sehat saya membawa saya pada hidayah (petunjuk) baru. Saya menjadi sadar, salat dapat menjadi penolong saya (dan mencegah saya dari berbuat keji dan munkar) apabila saya di dalam salat sering mengucapkan bacaan yang relevan.

Umpamanya, ketika saya diboikot itu, salah satu ayat yang relevan ialah QS Fushshilat [41] ayat 34: “… tolaklah [sikap permusuhan itu] dengan yang lebih baik, maka akan ternyatalah permusuhan yang ada antara engkau dan dia akan menjadi seperti hubungan [kasih-sayang] yang sangat setia.

Dengan tertanamnya ayat-ayat kasih-sayang seperti itu pada diri saya melalui salat saya, mulai tumbuhlah kecerdasan sosial (pergaulan) saya. Walhasil, “si dia” mulai melunakkan sikap kerasnya kepada saya, sehingga hati saya menjadi lapang. Mendekatnya kejayaan dunia-akhirat di bidang pergaulan pun saya rasakan semakin nyata.

Begitulah. Jika menjalani salat yang tidak mencerdaskan, yang tidak meningkatkan kecerdasan tertentu yang kita butuhkan untuk mengatasi persoalan yang sedang melanda kita, maka kita mustahil berjaya dunia-akhirat. Sebaliknya, bila mendirikan salat yang mencerdaskan, yang melejitkan kecerdasan tertentu sesuai dengan kebutuhan kita dalam menangani masalah yang sedang kita hadapi, maka terbukalah pintu kesuksesan dunia-akhirat di depan kita.

Catatan: Jenis kecerdasan yang dapat kita lejitkan melalui salat tidak hanya kecerdasan sosial, tetapi semuanya, termasuk: kecerdasan emosional, spiritual, naturalis, linguistik, matematis, visual, musikal, fisik-kinestetik, dll. Tentu saja, pengembangan kecerdasan yang optimal melalui salat tidaklah cukup dengan pengucapan bacaan yang relevan saja. Masih ada banyak cara lainnya. Satu artikel ini belum mencukupi untuk menerangkannya. Dibutuhkan sekurang-kurangnya satu jilid buku tersendiri untuk menjelaskannya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.