Shalatlah Seperti Rerumputan
2 Februari 2008 oleh aZti aRlina
Shalatlah seperti Rumputan, begitulah pesan seorang sastrawan muslim, Ahmadun Yosi Herfanda, yang tertuang dalam puisinya “Sembahyang ku Sembahyang Rumputan”. Dalam kelelahan spiritualitasnya, ketika rakaat demi rakaatnya berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, seperti sia-sia; ia menghanyutkan diri dalam lautan tahajud. Mengantarkan dia pada permukaan untuk bertemu pada tuhan. Pertemuan yang begitu indah, hingga tangannya menuntun pena menuliskan bait sajak..
Sembahyang ku sembahyang rumputan
Sembahyang penyerahan jiwa dan badan
Yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
Sembahyang ku sembahyang rumputan
Sembahyang penyerahan habis-habisan
Walau kau tebang aku
Akan tumbuh sebagai rumput baru
Walau kau bakar daun-daun ku
Akan bersemi melebih dulu
Aku rumputan
Tak pernah lupa sembahyang
: Sesungguhnya shalatku dan ibadahku
Hidupku dan matiku hanyalah
Bagi Allah, tuhan sekalian alam
Begitulah rumputan, yang memberikan simbol kerendahan-hatian, kebersahajaan, kefanaa, dan ketakberartian umat manusia di hadapan Sang Pencipta.
Rerumputan juga menyimbolkan keteguhan dan semangat yang tak pernah padam.Coba saja rerumputan itu di bakar atau di tebang, maka ia akan tumbuh kembali dengan rerumputan baru yang hijau dan segar..
Gerakan rerumputan yang tunduk tertiup angin, menggambarkan semangat berjamaah dalam tunduk kepada-Nya..
Kini, sudahkah kita bisa seperti rerumputan itu ?
(di olah dari berbagai sumber)
So beautiful.
Keep on writing, my sister.
syukron katsiron