Mengapa cara shalat kita beda?

Alkisah, seorang pemuda Madura datang ke Yogyakarta. Ia menempuh studi lanjut, berkuliah di kota pelajar ini. Dijumpainya, cara shalat teman-temannya berlainan. Kenyataan ini agak mengejutkan baginya. Di kampung asalnya, semua orang bersholat dengan cara yang “sama”, patuh mengikuti petunjuk sang kyai.

Tapi di Jogja, cara salat kyai (ulama) tidak sepenuhnya diikuti oleh umatnya. Selain itu, kyai-nya pun macam-macam. Bukan hanya dari NU, melainkan juga Muhammadiyah, Tarbiyah (PKS), HTI, Syiah, Ahmadiyah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Jadilah sang pemuda Madura menjumpai aneka macam cara shalat di Jogja. Ia pun bertanya-tanya: Shalat kita beda???

Ia mempertanyakan cara shalat yang diajarkan oleh empat madzhab utama (Hanafi, Hanbali, Maliki, Syafi’i), juga Muhammadiyah dan NU serta lainnya. Ia bertanya-tanya: Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang hidup sebelum munculnya berbagai mazhab atau aliran itu? Salahkah?

Lantas, sang pemuda menyarankan kita untuk menjadikan buku Muhammad Nashiruddin al-Albani, Sifat Shalat Nabi, sebagai satu-satunya rujukan. Dengan demikianlah menurut dia, shalat kita akan menjadi benar dan tidak beda lagi. Begitulah katanya.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Aku juga merekomendasikan buku al-Albani tersebut. Kualitasnya luar biasa. Namun aku juga merekomendasikan buku-buku lain yang juga berkualitas.

Aku memahami kerinduan sang pemuda yang menginginkan cara shalat kita sama persis (disamping benar). Hanya saja, apakah Allah dan Rasul-Nya mengharapkan kita bershalat dengan cara yang sama persis?

Nabi saw. bersabda, “Bershalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku bersahalat!”

Perhatikanlah bahwa yang disabdakan bukanlah bershalatlah “sebagaimana Nabi bershalat”, melainkan “sebagaimana kalian melihat” Nabi bershalat. Nah, apabila cara lihat (atau sudut pandang) kita berbeda dalam melihat cara Nabi bershalat, bukankah ini akan menghasilkan cara shalat yang berlainan pula diantara kita?

Kalau pun cara lihat kita sama persis, cara shalat kita pun belum tentu sama persis. Untuk contoh penjelas, marilah kita gunakan sudut pandang al-Albani terhadap cara shalatnya Nabi saw. Satu contoh saja dulu, ya!

klik di sini untuk melihat gambar lebih besarSatu contoh: Bagaimanakah Nabi mengangkat tangan dalam kaitannya dengan takbir? Menurut sudut pandang al-Albani di buku tersebut, “Terkadang Nabi mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan ucapan takbir, terkadang sesudah ucapan takbir, dan terkadang pula sebelum ucapan takbir.”

Nah, satu contoh saja sudah menunjukkan adanya tiga cara yang berlainan dalam shalat kita, bahkan walaupun sudut pandangnya sama, apalagi bila berbeda. Itu baru satu unsur shalat. Belum lagi unsur-unsur lainnya. (Pada unsur-unsur lainnya, al-Albani juga mengemukakan berbagai perbedaan cara shalat Nabi.)

Oleh karena itu, seharusnya kita tidak perlu memaksakan diri atau pun orang lain untuk bershalat dengan cara yang sama persis alias seragam. Marilah kita terima kenyataan bahwa perbedaan cara shalat kita itu sah, sama-sama islami, asalkan sama-sama sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Oke?

26 thoughts on “Mengapa cara shalat kita beda?

  1. Assalamu’alaikum…

    kalo “memaksakan” menurut ana gak ada benarnya…

    tapi klo saling menasehati utk yang benar dan dengan kesabaran kan gada salahnya..

    lagian apa kita gak kasian dengan saodara2 kita yang begitu mencintai islam.. namun dilapangan mereka terjebak dalam ilmu yang tidak ada dasarnya dari rasulullah…

  2. mengapa ketika shalat, pada saat mau raka’at ke dua, ada yang mengangkat tangan saat berdiri, ada yang nggak?

    yang bener yang mana?

  3. Dasar.. ditanya malah bercanda.. ya itu juga selalu jadi pertanyaan.. saya sendiri lebih cenderung melakukan mengangkat tangan…

    Kalau menurut saya yang jadi masalah itu bukan berbeda-bedanya itu.. di Indonesia ini kan orang orangnya banyak.. dan banyak juga yang tidak bisa mengkaji islam secara detail seperti kita kita ini yang bisa cari info di blog dan di buku..

    Nah. Sekarang ketika mereka melihat solat orang berbeda-beda. mereka menjadi ragu apakah gerakan solat yang mereka ikuti itu benar. apakah orang yang mereka ikuti itu mengikuti ajaran yang benar.. jangan jangan dia ngarang sendiri lagi.. (ini kan jadi kasus.. gawat)

    Karena itu sangat penting untuk mendeskripsikan solat yang lebih jelas dan lebih terstandardisasi.. da ga semua orang ngarti..

    Kalau ada gaya solat yang berbeda-beda juga akan lebih baik kalau dijelaskan semuanya.. misal adanya buku solat untuk masing masing aliran.. gitu..
    1. Solat untuk aliran A
    2. Solat untuk aliran B

    kalo ada orang yang ga tau cara solat sama sekali terus mengikuti orang yang solat dengan cara (yang dia pikir sendiri.. bukan dengan mengikuti cara rosul) kan bahaya..

    Dan lagi dengan “keterpecah belahan” (sedikit extreme kata katanya) cara solat kita ini dapat menyebabkan lubang di silaturahmi. bahkan bisa menimbulkan kecenderungan untuk memisahmisahkan aliran A dengan aliran B. misal, orang aliran A merasa lebih nyaman bila solat dengan aliran A saja dan aliran B dengan aliran B saja.. ini kan bisa terjadi..

    Jadi, simpulannya adalah.

    Saya lebih setuju apabila solat di standardisasikan. atau kalau tidak diperjelas jenis jenisnya apa aja.. (ijo kek.. biru kek.. merah kek)

    ps: Saya disini sebagai orang awam yang belum banyak belajar tentang islam.. dan ini adalah pendapat saya.

    • Assalammualaikum wahai sahabat,saya senang masih ada diantara manusia yang mau menyelesaikan suatu perbedaan diantara manusia apalagi yang di perdebatkan itu untuk tujuan yang sama yaitu IBADAH kepada Allah S.W.T yang maha segalanya.Saya hanya ingin bahas mengenai standarisasi tata cara sholat.Jika kita sudah bicara yang menyangkut sebuah keyakinan ini sangatlah kompleks,kecuali manusia itu mau mangambil yang lebih baik bagi mereka dan meminta petunjuk kepada Allah S.W.T .
      Disinilah peranan para ulama kita yang harus produktif dengan sering mensyiarkan tentang cara shlat,dan juga departemen agama, karena lembaga inilah yang mewadahi masalah keagamaan.Ya cukup rumit memang karena menyangkut keyakinan, bagaimanapun ini tugas besar bagi mereka, semoga mereka mendapat taufiq dan hidayah untuk menjalani tugas beratnya ini.Amin
      Jangan pernah berhenti untuk saling memberitahukan dalam hal kebaikan, Sesungguhnya Allah maha mengetahui segalanya.

  4. @ Saladinxc

    Usulnya menarik, tapi tak dapat diwujudkan. Bagaimana mungkin kita bisa menentukan “cara shalat aliran A’, sedangkan cara shalat di dalam satu aliran itu sendiri sudah bisa berbeda? Seperti yang sudah saya ungkap di atas, sebagai contoh, cara shalat “aliran” al-Albani tidak seragam.

    Sekarang, karena penyeragaman itu mustahil dilakukan, maka kita perlu lebih realistis dengan menyebarluaskan informasi mengenai banyaknya cara shalat yang benar.

    Oh ya, saya tambahkan bahwa untuk ibadah mahdhoh (seperti shalat), segalanya terlarang, kecuali ada tuntunannya. Karena itu, penyeragaman cara shalat pun hukumnya haram karena tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw.

  5. Hmm.. jadi sifat consideration kita juga harus besar ya.. istilahnya kita harus bisa menerima perbedaan dengan orang lain itu.. terus terang aja itu agak sulit.. apa lagi untuk kami . orang awam yang engga ikut aliran tertentu..

    Pemisahan bentuk solat ini tidak ada baiknya sama sekali .. malah menimbulkan perpecahan.. debat yang tidak ada ujungnya.. dan rasa tidak nyaman antar satu dengan lain..

    Terus terang saja, saya sendiri, ketika melihat seseorang yang solatnya berbeda dengan yang “orang orang sering saya lihat” atau cara solat pada umumnya.. saya jadi segan dan bingung ketika hendak melakukan diskusi keagamaan dengan dia.. karena takut takut jangan jangan dia ikut aliran aneh aneh lagi (tau sendiri kan jaman sekarang gitu loh.)… NAH.. seperti ini..

    Nah, apakah ini perbedaan yang ingin dijunjung kita sebagai orang islam ?

  6. Minta tolong untuk di notify ke email ya mas Shodiq.. lol.. saya suka lupa site nya.. lupa ditandain nih barusan .. :p

    Makasih

  7. Saya mw nanya dong!

    1. Dosa org2 yg tidak ber-shalat dalam waktu yg cukup lama apa termasuk dosa yg diampuni oleh Allah atau tidak?

    2. Apa benar anggapan bahwa bila dalam waktu 3 minggu seorang muslimin tidak mengikuti shalat jum’at berjama’ah maka dirinya dianggap keluar dari Islam?

    Terima kasih atas jawabannya.

  8. assalamu’alaikum
    saya mau tanya nih?
    posisi tangan setelah takbiratul ikhram sebaiknya diletakkan dimana? karna ada pendapat sebaiknya diletakkan diatas dada. dan pendapat yang lain diletakkan di perut tepatnya diatas pusat..
    tolong dong kasi penjelasan berikut hadits dan ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang hal diatas.

  9. Kutipan:
    ==
    Ia mempertanyakan cara shalat yang diajarkan oleh empat madzhab utama (Hanafi, Hanbali, Maliki, Syafi’i), juga Muhammadiyah dan NU serta lainnya. Ia bertanya-tanya: Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang hidup sebelum munculnya berbagai mazhab atau aliran itu? Salahkah?
    ===

    Pertanyaan bagaimana dengan orang2 yang shalat sebelum muncul mazhab Imam Maliki yang lahir tahun 93 Hijriyah, kemudian diikuti dengan anjuran mengikuti buku Muhammad Nashiruddin Albani yang lahir tahun 1333 Hijriyah agar seragam menurut saya aneh. Kan bisa juga dipertanyakan bagaimana dengan orang2 yang lahir sebelum Muhammad Albani yang lahir tahun 1333 H?

    ===
    Muhammad Nashiruddin Al-Albani – Wikipedia bahasa Indonesia …
    Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh al-Albani lahir pada tahun 1333 H (1914) di Ashqodar (Shkodra), ibu kota Albania. …
    id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Nashiruddin_Al-Albani
    ===

    Selain itu Imam Malik itu adalah murni Ulama Salaf yang boleh dikata masuk golongan Tabi’iin atau satu generasi terbaik dalam Islam. Beliau ahli hadits pertama. Kemudian acuan ibadah shalat beliau adalah penduduk Madinah yang merupakan anak-anak sahabat Nabi.

    Jadi meski mungkin Imam Malik tidak memakai Hadits Bukhari atau Muslim yang lahir puluhan tahun/ratusan tahun setelah beliau, acuan beliau adalah praktek shalat penduduk Madinah dari generasi terbaik.

    Maaf, ini agar kita bisa mempelajari sejarah dan kenyataan mana yang benar2 salaf/terdahulu dan mana yang tidak.

  10. Ping-balik: Wajibkah Penyeragaman Cara Shalat? « Panduan Shalat

  11. Cara shalat adalah hanya bentuk ritual, yang terpenting adalah implementasi shalat dalam keseharian sesuai dengan firman Allah SWT. sudahkah kita menjadikan shalat menjadi pilar-pilar yang dilarang oleh Allah SWT, yakni nahi dan munkar ? benar kan … ? soal cara shalat kan tergantung situasi dan kondisi kita, sedangkan yang salah hanya satu, yaitu yang tidak melakukan shalat !

  12. buat apa ada kitab fiqih? bukankah smuanya sudah ada cara2nya di kitab fiqih?
    skr jgn dlu ngomongin solat, tanya aja dulu diri sendiri tentang wudhu..apakah wudhu kita sudah sempurna atw blm?

  13. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Diskusi yang luar biasa dan perlu terus ditingkatkan.
    Bagi saya sebenarnya perbedaan itu bisa saja terjadi asal dengan dalil yang memang diketahui dan diyakini kuat.
    Perbedaan akan menjadi “tidak baik” jika tanpa dilandasi dengan dalil.
    Dalil yang dimaksud tentu saja berasal dari al-Qur’an dan Hadis yang shahih (kuat).
    Ketika dijelaskan kepada kita secara rinci tentang dalil yang kuat tersebut dan kita tidak memiliki dalil lain yang lebih kuat, maka sebaiknya kita mendengarkan dan mempelajari dalil yang diberikan kepada kita itu.
    Perbedaan sesungguhnya haruslah diselesaikan. para ulama’ sendiri telah mengemukakan cara penyelesaian itu, antara lain:
    a. al-Jam’u wa al-talfiq (mengkompromikan hadis-hadis yang berbeda, biasanya berujung kepada mengadopsi seluruh dalil. seperti yang dijelaskan oleh penulis blog ini. misalnya bahwa takbir itu bisa berbarengan dengan mengankat tangan, sebelum memngangkat tangan atau setelah mengangkat tangan. b. Nasikh mansukh (satu dalil terhapus dengan dalil lain) c. al-tarjih (mencari dalil yang lebih kuat) atau d. al-Tauqif (vending) sampai ditemukan dalil lain yang bisa menguatkannya.
    Demikian tanggapan saya, semoga–sekali lagi–perbedaan tidak membuat kita saling berseberangan, tapi malah membuat kita semakin banyak belajar, wa Allahu a’lam.
    wassalam.

  14. Perbedaan cara sholat timbul dikarena cara pandang itu saya setuju..
    berdasarkan hadist cara sholat berbeda-beda hanya saja mari kita merujuk kepada hadist sahih hanya hadist sahihlah yang kita jadikan rujukan ..

    Dasar Hukum Islam ada 2 yakni Al-Qur’an dan Sunnah (al-hadist), jika kata qur’an ikuti aja karena memang sudah pasti kebenarannya, klo Qur’an belum memberi penjelasan detail maka Sunnah dapat dijadikan rujukan namun gunakanlah yang sudah jelas kesahihannya..

    Perbedaan dalam sholat itu wajar jika dipertanyakan mana yang paling benar jawabnya sama2 benar jika berpedoman kepada dua dasar hukum ini, tetapi jika sholahnya menyimpang dari al-qur’an maupun sunnah itulah yang disebut dengan bid’ah, udah jelas itu salah.

    kesimpulan, mari kita kembali kepada Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan kita, qur’an dan Sunnah lah hakimnya.., bener kata Qur’an, bener kata Sunnah ikuti, tanpa memandang siapa yang bilang …

    wassalam

  15. Saya juga dari Madura. Saya melihat pemaparan di atas menunjukkan bahwa saudara kita dari Madura itu gak pernah ngaji tentang shalat yang betul dengan dalilnya dari para ulama, sehingga ketika keluar dari Madura dia bingung. Ketika dia membaca satu buku, dan dalilnya ada langsung memfonis seolah-olah hanya satu cara saja supaya shalatnya seragam. Hal ini juga banyak terjadi pada saudara kira yang lain. Dari kecil ngajinya gak mantap. Akhirnya setelah besar, melihat ada yang berdalil seolah beda dengan dirinya, langsung berubah. Dan ini tidak masalah.
    Sebenarnya kalau kita mau ngaji betul dan sungguh2 sejak kecil, kita akan mengetahui bahwa shalat yang kita lakukan khususnya dari Madura telah betul. Dan dalilnya shahih. Tinggal kita mau belajar enggak? Saya ada semua setiap gerakan shalat dari takbir sampai salam dengan dalil yang shahih dari berbagai hadits, sesuai dengan pandangan ahli hadits.
    Jadi kalau melihat ada saudara kita yang berbeda, jangan sekali-kali menganggap tidak mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu hanya perbedaan cara pandang dan itu dibolehkan dan diisyaratkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Terima kasih

  16. Ping-balik: Wajibkah Penyeragaman Cara Shalat? « Indonesia Hot

  17. gini ya, tentang apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW ketika mengangkat tangan ketika takbir dan melafadzkan Allahu Akbar, *salah satu contohnya itu ka nada beberapa jenis, ya ga apa2 kalo kita beda2 juga, asalkan emang menurut tuntunan shalat Nabi Muhammad SAW yang benar. Walapun orang2 beda tapi sama seperti tuntunan Nabi Muhammad SAW itu tidak apa2, yang tidak bolek itu beda dan tidak ada tuntunan atau contohnya dari Nabi Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s