Bacaan shalat yang menyentuh hati
Subagio IN, seorang wartawan senior, menuliskan pengalamannya menjadi makmum ketika KH Mas Mansur menjadi imam shalat Jumat. Dalam buku KH Mas Mansur: Pembaharu Islam di Indonesia yang ditulisnya, Subagijo mengaku: “Tidak mungkin saya dapat melupakan hari itu”. Subagijo sedang [ber]shalat Jumat di sekolah Muallimin Muhammadiyah Yogya pada 1940-an. Imam dan khatibnya ketua PP Muhammadiyah, KH Mas Mansur. Tempat shalat sudah penuh. Dia dan banyak orang lain yang tidak kebagian tempat harus [ber]shalat dan mendengarkan khutbah di luar di bawah terik sinar matahari yang menyengat kulit.
“Pada waktu Mas Mansur membaca surat al-Fatihah, tanpa saya sadari air mata saya mulai meleleh di pipi. Saya terus menangis tersedu-sedu. Suaranya mengalun, sungguh menyentuh perasaan, menusuk jantung rongga dada. Saya menangis terisak-isak. Terisak-isak. Padahal waktu itu matahari sedang panas memancar…”
Berhari-hari peristiwa itu terbawa perasaan Subagijo. “Peristiwanya sungguh mengesankan. Mengesankan sekali”, tuturnya. Hatinya terus bertanya mengapa bacaan shalat dapat demikian menyentuh hati padahal di bawah terik matahari?
Suatu hari, ketika pulang kampung, dia ceritakan [hal itu] kepada ayahnya. Menurut ayahnya, itu terjadi karena pembacanya hatinya bersih. Kalam Ilahi jika dibaca oleh orang yang hatinya bersih bisa memantulkan kekuatan dan kedamaian bagi pendengarnya. Apalagi jika yang mendengar khusyu’ pula.
“Keluhuran budi dan kebersihan hati Mas Mansur tidak diragukan lagi. Tiap orang entah pelajar, orang pergerakan, pejabat maupun orang awam tahu itu” kata Subagijo. Mas Mansur seorang pemimpin tidak ambisius, seorang yang polos, alim, organisator dari pesantren yang mampu bergerak di kalangan terpelajar, katanya lagi.
——-
Kutipan dari “Bacaan Shalat Mas Mansur“