Bershalat Sambil Memegang Mushhaf Al-Qur’an

saya sudah membaca buku anda. bagus, itu saja yang bisa saya katakan. tapi bukan masalah bagusnya. seperti saran anda, kalo mau praktek disesuaikan dengan kepribadian kita. kayaknya yang cocok dengan saya yach yang arungi makna salat. karena saya orang kuper, susah ngomong, telmi. tapi saya yakin, dengan praktek salat smart ini bisa meningkatkan taraf hidup saya dan kecerdasan saya.
yang menarik dari buku ini adalah tentang membaca mushaf dalam salat. saya termasuk susah kalo harus hapalan surat apalagi saya cuma hapal 10 surat saja. jd yg sy bc ya hanya itu2 aja. cuma sya ini berkcmata tebal. jd apa boleh mushaf dipegang ketika berdiri dlm solat.tp saya jga menerapkan bc 2x, 8x mengingat.
sy ini agak budeg jd agak ksulitan mendengar azan dari masjid. apa boleh mjawab azan di tv?sy tdk pernah kmasjid kcuali ramadhan.
terus saya ini cewek muslim ktp, baru satu tahun ini salat. skr 27 thn. dan saya mulai solat karena saya ingin kaya. dari situ saya merasa salat sy bukn krn allah. tp stelah mbc buku anda, sy mengerti meski agak takut2 jg salat saya gak dterma.
sy cm mau mengucapkan syukron krn anda dah menulis buku hebat ini.
tolong ptanyan saya djwb.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Terima kasih atas pujiannya. Jawabanku: sebagian besar ulama membolehkan kita untuk bershalat sambil memegang mushhaf Al-Qur’an, terutama dalam shalat sunnah. Sebagian kecil ulama melarangnya. Aku berpegang pada yang membolehkannya. Sungguhpun demikian, yang aku kutip di bawah ini tidak hanya pandangan yang membolehkan, tetapi juga yang melarangnya.

Jawaban dari SyariahOnline.com:

Para ulama telah menyusun hal-hal yang membatalkan shalat seseorang. Bila kita cermati semua hal yang membatalkan shalat, maka tidak kita dapati nash yang jelas berkaitan dengan tidak bolehnya seseorang memegang mushaf Al-Quran) untuk membaca ayat-ayat.

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa melakukan gerakan (di luar ketentuan shalat) lebih dari tiga kali berturut-turut membatalkan shalat. Namun bukan berarti memegang mushaf Al-Quran bisa dikategorikan melakukan gerakan tiga kali berturut-turut.

Selain itu banyak riwayat dari Rasulullah SAW yang menceritakan bolehnya orang shalat sambil menggendong anak, atau melangkah ke depan untuk mengisi shaf yang kosong atau menggerakkan/menjulurkan tangan mencegah orang yang akan lewat di depannya.

Bahkan Rasulullah perintahkan untuk membunuh ular dan kalajengking yang lewat di depannya. (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan yang empat orang).

Dalam hadits riwayat Ahmad dari Aisyah diceritakan bahwa Aisyah RA. Minta dibukakan pintu sedangkan Rasulullah SAW sedang shalat, maka beliau berjalan membukakan pintu hingga terbuka.

Dalam shalat khauf kita diperintahkan untuk mengawasi gerak gerik musuh. Karena itu para ulama membolehkan seseorang memegang mushaf AL-Quran dan membaca saat shalat, sebagaiman yang sering kita lihat dalam shalat terawaih dari masjidil Al-Haram di Makkah dan Madinah.

Jawaban dari PesantrenVirtual.com:

Saat salat tarawih sambil membaca mushaf menjadi perbedaan pendapat:
sebagian besar ulama membolehkan (Malikiyah, Syafi’iyah, Hanbaliyah) dalam salat sunat (terutama dalam Ramadhan, termasuk tarawih); Malikiyah dan Hanbaliyah memakruhkan dalam salat fardhu; Hanafiyah dan Dzahiriyah tidak membolehkan baik dalam sunat atau fardhu; Zaidiyah membolehkan asal tidak lebih dari membaca dengan melihat saja (tidak memegang dan membolak-balik mushaf). [Lihat, misalnya, Kumpulan Fatwa-nya Syeikh Gad el-Haq hal 181].

Timbulnya perbedaan ini bermula dari perbedaan pendapat : pekerjaan membaca itu termasuk membatalkan salat (karena ia termasuk pekerjaan yang panjang yang bisa merusak kekhusyukan salat) dan tidak membatalkan (karena membaca mushaf tidak merusak salat).

Menurut saya, orang yang sekiranya mampu tetap khusyuk sambil membaca/melihat mushaf, silahkan saja melakukan hal itu. Namun, jika sekiranya mengurangi kekhusyukannya, maka sebaiknya membaca apa yang dihafalnya saja.

Jawaban dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz & Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

TIDAK MENGAPA MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN MEMBACA MUSHAF KETIKA SHALAT TARAWIH RAMADHAN

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya melihat ketika bulan ramadhan di Mansharim –ini adalah untuk pertama kalinya saya shalat tarawih di Manthiqah Ha’il- ketika itu imam memegang mushaf dan membacanya, kemudian dia meletakkan di sampingnya dan mengulang-ngulang hal itu hingga selesai shalat tarawih, sebagaimana yang dia lakukan pula ketika shalat malam di sepuluh terakhir ramadhan. Pemandangan ini mengherankan saya karena kebiasaan itu tersebar di hampir seluruh masjid-masjid di Ha’il, padahal aku tidak pernah mendapatkannya di Madinah Al-Munawarah misalnya ketika saya shalat tahun yang lalu sebelum ini.

Yang menjadi ganjalan saya, apakah amal tersebut pernah dikerjakan pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Jika tidak berarti termasuk bid’ah yang diada-adakan yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun di antara sahabat maupun tabi’in. Lagi pula bukankah lebih utama membaca surat pendek yang dihafal imam daripada membaca dengan melihar mushaf dengan target supaya dapat menghatamkan bersamaan dengan habisnya bulan, karena imam membaca setia harinya satu juz? Jika perbuatan tersebut diperbolehkan manakah dalil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawaban
Tidak mengapa seorang imam membaca dengan melihat mushaf pada saat tarawih, agar para makmum kedapatan pernah mendengar seluruh (ayat) Al-Qur’an. Dalil-dalil syar’i dari Al-Kitab dan As-Sunnah telah menunjukkan disyariatkannya membaca Al-Qur’an ketika shalat, hal ini berlaku umum baik membaca dengan melihat mushaf ataupun dengan hafalan. Telah disebutkan pula dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa beliau memerintahkan budaknya Dzakwan untuk mengimaminya ketika shalat tarawih, ketika itu Dzakwan membaca dengan melihar mushaf. Riwayat ini disebutkan oleh Al-Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya secara mu’allaq dan beliau memastikan

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerjemah Abu Umar Abdillaj, Penerbit At-Tibyan Solo]

HUKUM MEMBAWA AL-QUR’AN BAGI MAKMUM DALAM SHALAT TARAWIH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum membawa Al-Qur’an bagi makmum dalam shalat tarawih di bulan Ramadhan dengan dalil untuk mengikuti bacaan imam?

Jawaban
Membawa mushaf dengan tujuan ini, menyelisihi sunnah berdasar beberapa hal yaitu :

Pertama : Hal ini menjadikan seseorang tidak meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.

Kedua : Menjadikan seseorang harus banyak bergerak seperti membuka mushaf, menutupnya, meletakannya di ketiak atau di saku dan sebagainya.

Ketiga : Menyibukkan orang tadi dengan gerakan-gerakan tersebut dalam shalat.

Keempat : Menghilangkan kesempatan untuk melihat ke arah tempat sujud, padahal sebagian besar ulama memandang bahwa melihat ke tempat sujud termasuk sunnah dan keutamaan.

Kelima : Orang ini mungkin tidak merasakan bahwa ia sedang shalat bila hatinya sedang tidak konsentrasi. Berbeda jika ia shalat dengan khudhu’ dan tawadhu’ dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, dengan kepala menunduk melihat tempat sujud. Hal ini lebih dekat kepada hadirnya perasaan bahwa ia sedang shalat di belakang imam.

Jawaban dari Ahmad Sarwat, Lc.:

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum yang anda tanyakan. Sebagian membolehkannya dan sebagian lainnya mengatakan bahwa hal itu membatalkan shalat.

1. Kalangan yang Membolehkan

Di antara yang membolehkan shalat sambil memegang dan membaca dari
mushaf adalah Al-Imam Malik, Al-Imam As-Syafi’i dan Al-Imam Ahmad bin
Hanbal, Abu Yusuf dan Muhammad serta yang lainnya rahimahumullah.

Namun meski mereka memandang bahwa shalat sambil membaca mushaf Al-Quran bukanlah hal yang terlarang, namun lebih dikhususkan untuk shalat sunnah atau nafilah dan bukan shalat wajib.

Selain itu mereka tetap mensyaratkan agar tidak terlalu banyak gerakan
yang akan mengakibatkan batalnya shalat. Hal itu mengingat bahwa dalam pandangan para ulama syafi’i misalnya, tiga kali gerakan yang berturut-turut tanpa jeda sudah dianggap membatalkan shalat. Meski membolehkan, namun mereka tetap mengatakan bahwa shalat dengan menghafal langsung tanpa membaca dari mushaf tetaplah lebih utama dan lebih baik.

Dalil-dalil yang Membolehkan

a. Zakwan mengimami Aisyah ra. dengan melihat mushaf

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi bahwa sahaya Ummul Mukminin Aisyah
radhiyallahu ‘anha yang bernama Zakwan telah shalat menjadi imam bagi
Aisyah ra. di bulan Ramadhan. Dia menjadi imam sambil membaca Al-Quran dari mushaf. Hal yang sama juga dalam shalat nafilah (sunnah) yang lain.

Riwayat ini sampai kepada kita lewat hadits yang dikeluarkan oleh
Al-Baihaqi (2/253).

b. Nabi SAW shalat sambil menggendong anak

Diriwayatkan secara shahih sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari (494) dan Muslim (543) dari Abi Qatadah bahwa Rasulullah SAW shalat sambil menggendong anak (cucu beliau).

Dengan penjelasan itu, maka logikanya adalah kalau menggendong anak
tidak membatalkan shalat, apalagi bila sekedar memegang mushaf. Padaha memegang mushaf itu punya manfaat tersendiri agar tidak salah bacaan, serta bermanfaat buat yang belum hafal Quran dari ingin membaca lebih banyak di dalam shalat.

c. Nabi SAW Terganggu Shalatnya tapi tetap meneruskan

Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah merasa terganggu
konsentrasi shalatnya ketika melihat al-khamishah (kain empat persegi
terbuat dari wol), namun tidak ada keterangan bahwa beliau mengulangi
shalatnya.

“Benda itu melalaikanku dari shalatku.” (HR Bukhari 366 dan Muslim 556)

Teranggunya shalat tidaklah membatalkannya. Karena tidak ada keterangan beliau mengulangi shalatnya. Maka demikian juga dengan memegang mushaf, meski barangkali agak mengganggu namun tidak lantas membatalkan shalat.

d. Pendapat para ulama

Al-Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab menyebutkan:

Bila seseorang membaca dari mushaf, maka shalatnya tidak batal. Baik dia hafal atau tidak hafal. Bahwa wajib membaca dari mushaf bila tidak hafal surat Al-Fatihah. Meski sesekali membolak-balik halaman, tidak membatalkan.

2. Pendapat yang Mengatakan Batalnya Shalat

Namun ada pendapat yang tidak membolehkannya secara mutlak, yaitu
pendapat kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Az-Dzahiriyah.

Pendapat mereka didasari oleh beberapa hal, di antaranya:

a. Hadits Ibnu Abbas ra.

Dalam kitab Al-Mashahif, Imam Ibnu Abi Daud meriwayatkan bahwa Ibnu
Abbas ra. berkata, “Amirul Mukminin melarang kami untuk menjadi imam
shalat di depan orang-orang sambil melihat ke mushaf.”

b. Melihat mushaf sama dengan berbicara dengan orang lain

Selain dengan hadits di atas, larangan membaca dari mushaf yang mereka pegang beralasan bahwa membaca dari mushaf sama kedudukannya dengan talqin (dibacakan oleh orang lain).

Dan talqin itu sama dengan berbicara dengan orang di luar shalat.
Sedangkan berbicara dengan orang lain yang tidak ikut shalat itu
membatalkan shalat.

c. Selain itu, alasan pelarangannya karena membaca dari mushaf itu
umumnya dilakukan sepanjang bacaan shalat. Ini berbeda dengan kasus imam yang lupa bacaan quran dan diingatkan oleh makmum. Dalam kasus itu, meski seolah ada ‘pembicaraan’ antar imam dan makmum, namun yang terjadi hanya sesekali saja, tidak sepanjang shalat.

Sedangkan membaca dari mushaf didudukkan seperti imam berbicara dengan orang lain, meski hanya lewat tulisan saja.

Mushaf Khusus, Mengapa Tidak?

Bila kita cenderung kepada pendapat yang membolehkan, tetap harus
berhati-hati dengan gerakan yang berlebihan. Dan untuk itu boleh juga
dipikirkan untuk tidak memegang mushaf dengan tangan, melainkan cukup diletakkan di depan orang yang shalat, tentunya dengan huruf yang besar dan tidak di atas tanah. Adapun bila hanya matanya saja yang membaca tulisan dari mushaf, tidak mengapa.

Dan sekarang ini di banyak tempat sudah terbit mushaf yang cocok untuk hal itu. Selain ukuran hurufnya besar juga halamannya lebar, sehingga tidak perlu membolak-balik halaman lagi. Satu halaman mushaf itu sebanding dengan 2 halaman di mushaf lain. Produsennya barangkali paham bahwa sebagian ulama agak ketat dalam masalah tidak boleh terlalu banyak bergerak dalam shalat.

Namun karena masalah ini memang khilaf di kalangan para ulama, di mana
sebagian membolehkannya dan sebagian melarangnya, maka yang dibutuhkan sekarang ini adalah sikap bijak dan toleran. Alangkah baiknya bila kita tidak saling menyalahkan, apalagi sampai menghujat dan menuduh shalatnya saudara kita itu batal dan tidak sah.

Selama suatu masalah masih terjadi khilaf, yang terbaik adalah bersikap
bijak dan berlaku adil.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

About these ads

5 thoughts on “Bershalat Sambil Memegang Mushhaf Al-Qur’an

  1. tidak mengapa sambil memegang al quran, tentunya itu karena ada maslahat, seperti kita juga boleh shalat sambil menggendong bayi atau anak, itu juga karena maslahat. Allah tidak membebani atau menyusahkan kita untuk beribadah kepada-Nya.

  2. Satu perlakuan saja menimbulkan banyak pendapat, ada yang pro dan ada yang kontra. Beginilah sekarang ini masing masing saling menafsirkan, sehingga terjadi perbedaan pendapat.
    Mas Shodiq pernah saya bertanya pada guru saya, pertanyaan saya seperti ini :
    Mengapa Surat atau Ayat yang sama dibacakan oleh 2 orang ustad tetapi penafsirannya dapat berbeda.
    Jawabannya panjang, tetapi secara singkatnya seperti ini : Yang diberi kemampuan untuk menafsirkan ayat atau surat tersebut adalah orang orang yang beriman dan bertaqwa agar penafsiran tersebut sesuai dengan yang diinginkan Allah. Sekrang timbul pertanyaa apakah sudah beriman dan bertaqwa orang orang yang menafsirkan ayat atau surat ini ?.
    Keterangan ini adalah contoh untuk hal diatas.

  3. Assalamualaikum mas shodiq

    Saya memahami dari hadits Ibnu Abbas r.a, bahwa sholat yang dilarang membawa mushaf adalah “sholat di depan orang2…” (berarti sholat fardhu, krn sholat fardhu diwajibkan berjamaah, di tempat berkumandangnya adzan), Sedangkan sholat sunnah yang lebih baik dilakukan di rumah masing2 tanpa berjamaah, tidak disebutkan larangannya membawa mushaf.

    Demikian mohon koreksi atas pemahaman saya apabila ada kesalahan. Terimakasih.
    Wassalamualaikum..

    berikut cuplikan hadish:

    a. Hadits Ibnu Abbas ra.

    Dalam kitab Al-Mashahif, Imam Ibnu Abi Daud meriwayatkan bahwa Ibnu
    Abbas ra. berkata, “Amirul Mukminin melarang kami untuk menjadi imam
    shalat di depan orang-orang sambil melihat ke mushaf.”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s