M Shodiq Mustika

Arsip untuk ‘1 – Siagakan pelaku’ Kategori

Murtadkah bila meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut?

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat, Islam ala M Shodiq Mustika di 18 Februari 2009 pada 10:07

Jumat kemaren aku dengerin radio, siang2 gitu jam 11an. Mbak2 penyiarnya blg gini : “Ayo pada siap2 jumat’an… katanya kalo 3x bolos jumat’an itu udah dianggap kafir loh…” jadi penasaran… emg ada yah hadist ato quran yg bilang begini? kalo gitu, sebenernya byk donk umat islam yg udh “gak diakui” oleh Allah? gw jg pegang terus konten hadits ini, tp apakah bener sperti itu p. Ustadz?

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Usai onani, haruskah mandi besar?

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 5 November 2008 pada 23:03

Seorang pembaca artikel “Kecanduan masturbasi: Cara mengatasinya” bertanya, “apakah onani/masturbasi merupakan hadats besar yang apabila setelah melakukakannya harus mandi besar? atau cukup berwudhu saja?”

Jawaban M Shodiq Mustika:

Baca entri selengkapnya »

Panduan Lengkap & Praktis Shalat yang Mencerdaskan

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 26 Agustus 2008 pada 20:54

Anda sering menunaikan shalat, bukan? Pagi-sore, siang-malam, bertahun-tahun, Anda sudah mengerjakannya. Jutaan kali telah Anda tundukkan badan dalam ruku’ dan sujud. Jutaan kali pula telah Anda baca bermacam-macam dzikir dan doa di dalam shalat. Hanya saja, bagaimana kualitas shalat Anda? Dalam perhitungan atau perkiraan Anda sendiri, seberapa besar bagian dari shalat Anda yang memberikan pengaruh positif pada kehidupan Anda?

mengenai buku ini di Penerbit Diva Press

Baca entri selengkapnya »

Sambutlah Panggilan Allah Sesuai Porsinya

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 6 Januari 2008 pada 06:08

Rasulullah saw bersabda: “Tuhan kita kagum kepada dua [macam] orang, [yang pertama] yaitu seseorang yang bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya, di antara para keluarga dan kekasihnya, untuk menghidupkan malam (Qiyamul Lail), kemudian Allah SWT berfirman: “Wahai MalaikatKu, lihatlah hambaKu yang bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya di antara kekasihnya dan keluarganya untuk menghidupkan malam, karena mengharap sesuatu (pahala) dari sisiKu dan belas kasih dariKu …” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la dan ath-Thabrani. Ibnu Hibban juga meriwayatkannya dalam kitab shahihnya dari Ibnu Mas’ud. Al-Albani menganggapnya hasan dalam kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (I: 258)).

Aktivitas “bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya … untuk menghidupkan malam” itu menunjukkan adanya “rasa terpanggil oleh Tuhan”. Sebab, Allah memang sudah memanggil kita, “Hai orang yang berselimut. Bangunlah …” (QS. Al-Muzammil ayat 1-2)

Sedangkan “sesuatu (pahala) dari sisiKu dan belas kasih dariKu” menunjukkan hasil dari tahajud, yang meliputi kekayaan dan kebahagiaan. Jadi, hadits tersebut mengisyaratkan bahwa tahajud yang menumbuh-kembangkan rasa terpanggil ini dapat menghasilkan kekayaan dan kebahagiaan.

Baca entri selengkapnya »

Sholat Jama’ Bukan Karena Musafir

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 12 Juni 2007 pada 07:11

 http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/651

Ya, selama ini mungkin kita hanya mengkaitkan sholat jama’ dengan status kita musafir atau bukan. Ternyata, sebenarnya tidak hanya demikian, karena sholat yang dijama’ (digabungkan waktunya) dapat dilakukan walaupun status kita mukim alias tidak sedang mengadakan perjalanan ke tempat lain.
Baca entri selengkapnya »

Shalatnya wanita: lebih baik di masjid atau di rumah?

Dalam 1 - Siagakan pelaku, 5 - Tebarkan hikmah, shalat di 26 April 2007 pada 10:14

Apakah wanita lebih baik bershalat di masjid ataukah di rumah? Sebagian ulama berpandangan, wanita selalu lebih baik bershalat di rumah. Sebagian lainnya berpandangan, ada kalanya wanita lebih baik bershalat di masjid. Masing-masing memiliki dasar. Mana yang dasarnya lebih kuat?

Baca entri selengkapnya »

Keciprak Wudlu

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 17 Maret 2007 pada 11:43

Wudlu itu adalah awal persiapan kita bertemu, ingat kepada Allah.  Bagian dari pesona ritual wajib sebelum kita masuk pada prosesi shalat.  Karena itu, wudlu harus dinilai sebagai “mengecat” hati dan raga sebelum menemuiNya.

Yah, idealnya begitu.  Karena itu, aku juga ikut-ikutan ‘gelo’ kalau melihat yang wudlu sepenaknya. Baca entri selengkapnya »

Khusyu itu apa ya?.

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 14 Maret 2007 pada 07:36

Kalau kita mendengar atau membaca kata khusyu, apa yang terbayang dalam benak?.

Penuh konsentrasi, sungguh-sungguh, tawadu, ikhlas, pasrah, ridha, rela, tidak mendengar apapun juga, kecuali yang dituju?. Atau apa ya?. Baca entri selengkapnya »

Bila hadirnya hati tak lagi memadai

Dalam 1 - Siagakan pelaku, shalat di 10 Maret 2007 pada 17:56

Ada kalanya, begitu saya mengangkat tangan dan mengucap takbir memulai salat, hati atau perasaan saya langsung mengembara ke mana-mana. Berjalan-jalan ke tempat lain yang tidak ada hubungannya (secara langsung) dengan makna bacaan yang saya ucapkan di dalam salat. Terutama saat saya terlanda masalah kehidupan yang menguras perasaan saya sedalam-dalamnya. Lisan saya melafalkan berbagai kata yang sudah saya hafal di luar kepala, sementara hati saya mengadukan persoalan lain yang sedang saya hadapi. 

Umpamanya, ketika “si dia” ngambek dan memboikot saya, mengadulah saya:

Kuakui, ya Allaah… telingaku kecil sekali, teramat mungil tuk bisa menangkap degup jantungnya. Maka kumohon, pinjamilah aku Telinga-Mu, ‘tuk dengarkan aliran darah merahnya, darah putihnya, sampai kusimak kata-katanya, kalimat-kalimatnya, yang tidak keluar dari bibir merahnya, bibir putihnya.  

Kuakui, ya Allaah… terhadap dia dosaku sangaaat banyak, terhadap dia pahalaku amaaat sedikit. Kini, entah sampai kapan, mana berani ku kembali ke hadirat-Mu, bila dosaku tak terampuni… sebutir sekalipun, bila pahalaku tak mengalir… setetes sekalipun?

Hati saya penuh dengan gejolak perasaan yang sedang mendera. Selalu saja ada dosa yang saya rasa perlu saya mohonkan ampunan. Selalu saja saya merasa ada banyak sekali kesalahan fatal saya yang layak saya sesali. Begitu sibuk hati saya. Tahu-tahu, seusai mengucap salam penutup salat, sajadah dan baju saya sudah basah tertimpa linangan air mata.

Bila Menangis dalam Salat

Menyadari berlinangnya air mata itu, saya sempat Ge-Er (gede rasa). Saya merasa sukses dalam melakukan salat. Namun, belakangan saya sadari, “kesuksesan” saya dalam menghadirkan hati di dalam salat yang dibuktikan dengan berlinangnya air mata itu tidaklah luar biasa. Mungkin saja tangisan di dalam salat itu terjadi bukan karena saya telah berhasil menegakkan salat dengan seutuhnya, melainkan lebih terdorong oleh watak saya yang sentimentil. Toh di luar salat pun saya gampang menangis.

Saat itu, dengan hati yang penuh kemelut, saya ucapkan bacaan salat di dalam salat saya “sebagaimana biasanya”. Tanpa pikir panjang, saya baca surat-surat dari Al-Qur’an yang pendek-pendek (yang sudah saya hafal di luar kepala) seperti al-Ikhlāsh, an-Nashr, al-Lahab, dan al-Kāfirūn. Begitu saja.

Memang sih, saya sampai meneteskan air mata. Namun, tangisan saya di dalam salat waktu itu tidak berhubungan dengan bacaan salat yang saya ucapkan. Meskipun sudah mengerti terjemahan kata-kata yang saya ucapkan itu, saya kurang menaruh perhatian pada relevansinya dengan luka jiwa yang menganga di hati saya. Apa akibatnya? Bukannya menyelesaikan masalah sebaik-baiknya, saya malah kian terjerat.

Bila Emosi Menjerat Diri

Ketika membaca surat al-Kāfirūn [109], misalnya, hawa nafsu (dan/atau pasukan iblis) menggiring saya untuk mengidentifikasi “si dia” sebagai “orang yang ingkar (kafir)”. Maka membaralah di hati saya: “… Hai orang-orang yang ingkar! Aku tidak mengabdi apa yang kamu abdi. … Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Dengan hati yang membara begitu, tanpa saya sadari, kecerdasan sosial (pergaulan) saya tidak berkembang. Walhasil, masalah yang saya hadapi ini bukannya mereda, melainkan justru kian parah. Perasaan saya semakin kalut, sementara perseteruan kami kian meruncing. Kejayaan dunia-akhirat di bidang pergaulan pun menjauh dari saya.

Maka celakalah pelaku salat, yang membiarkan salatnya [begitu saja], yang memperagakannya belaka, dan enggan [memanfaatkannya untuk] sesuatu yang berguna. (QS al-Mā’ūn [107]: 4-7)

Solusi Bila Hadirnya Hati Tak Lagi Memadai

Belakangan—alhamdulillāh—pengerahan akal sehat saya membawa saya pada hidayah (petunjuk) baru. Saya menjadi sadar, salat dapat menjadi penolong saya (dan mencegah saya dari berbuat keji dan munkar) apabila saya di dalam salat sering mengucapkan bacaan yang relevan.

Umpamanya, ketika saya diboikot itu, salah satu ayat yang relevan ialah QS Fushshilat [41] ayat 34: “… tolaklah [sikap permusuhan itu] dengan yang lebih baik, maka akan ternyatalah permusuhan yang ada antara engkau dan dia akan menjadi seperti hubungan [kasih-sayang] yang sangat setia.

Dengan tertanamnya ayat-ayat kasih-sayang seperti itu pada diri saya melalui salat saya, mulai tumbuhlah kecerdasan sosial (pergaulan) saya. Walhasil, “si dia” mulai melunakkan sikap kerasnya kepada saya, sehingga hati saya menjadi lapang. Mendekatnya kejayaan dunia-akhirat di bidang pergaulan pun saya rasakan semakin nyata.

Begitulah. Jika menjalani salat yang tidak mencerdaskan, yang tidak meningkatkan kecerdasan tertentu yang kita butuhkan untuk mengatasi persoalan yang sedang melanda kita, maka kita mustahil berjaya dunia-akhirat. Sebaliknya, bila mendirikan salat yang mencerdaskan, yang melejitkan kecerdasan tertentu sesuai dengan kebutuhan kita dalam menangani masalah yang sedang kita hadapi, maka terbukalah pintu kesuksesan dunia-akhirat di depan kita.

Catatan: Jenis kecerdasan yang dapat kita lejitkan melalui salat tidak hanya kecerdasan sosial, tetapi semuanya, termasuk: kecerdasan emosional, spiritual, naturalis, linguistik, matematis, visual, musikal, fisik-kinestetik, dll. Tentu saja, pengembangan kecerdasan yang optimal melalui salat tidaklah cukup dengan pengucapan bacaan yang relevan saja. Masih ada banyak cara lainnya. Satu artikel ini belum mencukupi untuk menerangkannya. Dibutuhkan sekurang-kurangnya satu jilid buku tersendiri untuk menjelaskannya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.