M Shodiq Mustika

Arsip untuk ‘4 – Rengkuh ruh’ Kategori

Shalat Sunnah Tidak Perlukah Perhitungan?

Dalam 2 - Mantapkan wujud, 4 - Rengkuh ruh, shalat di 23 Januari 2009 pada 03:39

Saat blogwalking tadi, kujumpai sebuah tanya-jawab yang menarik. Pertanyaannya: “Ustadz, saya mohon penjelasan mengenai hukum melaksanakan shalat sunnah awal & akhir tahun serta shalat sunnah rajab, karena di tempat saya shalat itu marak dilaksanakan. Saya sendiri dulunya termasuk orang yg melaksanakan, kemudian saya mendapat keterangan dari teman saya yg mesantren di beberapa pesantren di Garut dan Sukabumi serta Cianjur bahwa hukum hadistnya maudlu’ ( sangat dhoif ) sehingga tidak boleh dipakai menjadi dasar hukum dia juga memperlihatkan referensi dari dua kitab yaitu Fathl Mu’in dan Kifayatul Akhyar yang setahu saya itu kitab fiqh yg mu’tabar. Itu menjadi konflik di hati saya karena selama ini saya melaksanakan berdasarkan kitab tasawwuf ( qhoniyyah /ghunyah dan khozinatul asror ), menurut ustadz pendapat mana yg harus saya ikuti…?”

Baca entri selengkapnya »

Bacaan shalat yang menyentuh hati

Dalam 4 - Rengkuh ruh, shalat di 19 Desember 2008 pada 06:47

Subagio IN, seorang wartawan senior, menuliskan pengalamannya menjadi makmum ketika KH Mas Mansur menjadi imam shalat Jumat. Dalam buku KH Mas Mansur: Pembaharu Islam di Indonesia yang ditulisnya, Subagijo mengaku: “Tidak mungkin saya dapat melupakan hari itu”. Subagijo sedang [ber]shalat Jumat di sekolah Muallimin Muhammadiyah Yogya pada 1940-an. Imam dan khatibnya ketua PP Muhammadiyah, KH Mas Mansur. Tempat shalat sudah penuh. Dia dan banyak orang lain yang tidak kebagian tempat harus [ber]shalat dan mendengarkan khutbah di luar di bawah terik sinar matahari yang menyengat kulit.

Baca entri selengkapnya »

Kebiasaan Tahajud yang Kurang Semangat

Dalam 4 - Rengkuh ruh, shalat di 13 Januari 2008 pada 06:15

Selain dalam hal porsi waktu, mungkinkah kita “kurang merasa terpanggil oleh Tuhan” ketika melakukan tahajud? Ya. Bisa saja itu terjadi.

Baca entri selengkapnya »

Haruskah makmum membaca Al-Fatihah?

Dalam 2 - Mantapkan wujud, 3 - Arungi makna, 4 - Rengkuh ruh, shalat di 18 September 2007 pada 04:46

Bolehkah Kita Tidak Membaca Surat Al-fatiha Pada Sholat Berjama‘ah

Assalamualaikum.wr.wb Pak ustadz yang saya hormati saya mau bertanya tentang kewajiban kita memabca surat Al-fatiha dalam sholat berjama‘a, karena saya pernah membaca bahwasanya kalo di bacakan ayat-ayat Al Qur‘an kita harus diam dan menyimak.ini saya kaitkan dng sholat berjama‘a dimana ketika imam selesai membaca surat Al-fatiha langsung di lanjutkan dng ayat-ayat Al Qur‘an yang lain, biasanya saya di sela-sela saat kalo imam berhenti sebentar saya baca surat Al-fatiha tetapi biasanya kalo imam langsung membaca ayat-ayat ALQur‘an yang lain biasanya konsentrasi saya jadi buyar dan malah sering salah-salah dalam membacanya yang akan saya tanyakan apakah kewajiban membaca surat Al-fatiha dalam sholat berjama‘a bagi ma‘mum tetep di wajibkan kalo enggak gimana dengan syarat syah nya sholat, kan harus membaca surat Al-fatiha? Demikianlah pertanyaan dari saya atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih .

Baca entri selengkapnya »

Sujudku… (puisi Salbiah Sirat)

Dalam 4 - Rengkuh ruh, shalat di 28 Mei 2007 pada 18:02

sujudku hanya padaMu Ya Allah

berlindung dari segala keburukan dunia akhirat dan di jauhkan dari azab neraka

juga dekatkan segala kebaikan dunia dan akhirat yang dapat dihisabkan ke JannahMu

 

Baca entri selengkapnya »

Emha: Ar-Rohmaan: hanya sujud

Dalam 4 - Rengkuh ruh, shalat di 6 Mei 2007 pada 06:42

Ar Rohmaan
by Emha Ainun Nadjib

(Yang Maha Pengasih)

Baca entri selengkapnya »

Kesungguhan usaha para ulama dalam qiyamul lail

Dalam 4 - Rengkuh ruh, shalat di 2 April 2007 pada 07:56

Para ulama saleh terdahulu telah mengetahui bahwa mengerjakan qiyamul lail merupakan salah satu tanda bahwa ilmu seseorang bermanfaat. Imam Sufyan bin Uyainah mengatakan: “Bila siangku aku pergunakan untuk durhaka dan malamku aku pergunakan untuk tidur dan bermalas-malasan, maka manfaat apa yang kuperoleh dari ilmu yang telah aku tulis?” (Abu Nu’aim, al-Hilyah, VII: 271) 

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.