Baca dengan Keras untuk Dakwah, Efektifkah?

Saat membaca Al-Qur’an dalam shalat tahajud, apakah Anda membacanya dengan suara keras (supaya orang-orang terbangun dan bershalat tahajud)? Mari kita belajar dari kasus berikut.

Pada suatu malam, Rasulullah keluar rumah dan beliau mendapati Umar bershalat lail dengan suara yang keras.

Ketika ia bertemu Nabi saw., beliau bersabda, “Wahai Umar! Aku telah lewat di depan rumahmu ketika engkau bershalat lail dengan suara yang keras.”

Jawab Umar, “Wahai Rasulullah! Aku [bermaksud] membangunkan orang yang terlelap dan mengusir syetan.”

Lantas, beliau bersabda: “Wahai Umar! Lirihkan sedikit suaramu!”

Nah! Mengapa beliau bersabda begitu? Ada hikmah apa di balik perintah beliau itu?

Rupanya, perintah beliau tersebut berkenaan dengan efektivitas bacaan shalat sebagai media dakwah. Kita tahu, orang-orang yang terbangun dari tidurnya lantaran kerasnya bacaan shalat yang diucapkan itu belum tentu tergerak untuk bershalat pula. Bisa saja mereka justru berkeluh-kesah lantaran merasa terganggu. Namun, dengan menurunkan volume suara bacaan Al-Qur’annya hingga terdengar nyaman di telinga orang-orang lain sesuai dengan akseptabilitas (daya terima) para pendengar, dakwahnya akan mendapat simpati di hati orang-orang. Pada akhirnya, mereka pun menyambut hangat segala macam dakwahnya. Pucuk dicinta, ulam tiba. Efektif, ‘kan?

Kemudian, apakah setelah menyetel volume suaranya dalam bershalat, sehingga suaranya menjadi tidak terlalu keras, Umar memperoleh “ulam” (yakni hasil yang melebihi harapan)? Misalnya, apakah akhirnya segala macam dakwahnya benar-benar disambut hangat oleh orang-orang pada umumnya? Kita bisa menduganya dari gejala yang mengisyaratkan hal tersebut, yaitu besarnya jumlah orang yang memeluk Islam berkat dakwahnya.

Pada mulanya, di masa tahun-tahun pertama memeluk Islam, dakwah Umar kepada orang-orang non-Islam sama sekali belum efektif. Dakwahnya kepada mereka yang non-muslim ketika itu lebih banyak menuai antipati daripada simpati. Namun akhirnya, sampai saat ini, tiada seorang pun yang mengungguli prestasinya dalam mengislamkan orang-orang non-muslim.

Berapa jumlah mereka? Tidak diketahui. Namun, angkanya pasti luar biasa karena meliputi kawasan yang membentang dari Afrika Utara sampai Asia Tengah dan dari Persia sampai timur Mediterania. Hanya dalam waktu beberapa puluh tahun, mayoritas penduduk di kawasan-kawasan tersebut beralih agama ke dalam Islam. Mereka berbondong-bondong memeluk Islam itu terutama lantaran terpikat oleh kebijakan toleransi beragama yang dicanangkan oleh Khalifah Umar. (Lihat laporan Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam.)

Nah! Bagaimana mungkin kemampuan dakwah Umar ini bisa melejit dengan sedemikian hebat kalau bukan dari pengucapan bacaan-bacaan secara tidak terlalu vokal di dalam shalatnya sehari-hari?

(Catatan: Khalifah Umar pernah mengunjungi Gereja Resurrection di Jerusalem. Ketika bertepatan dengan  waktu shalat, sang Pater (pendeta yang mengepalai gereja tersebut) mempersilakan Khalifah untuk menunaikan shalat di tempat itu. Seandainya Umar masih biasa bershalat secara terlalu vokal seperti yang diceritakan dalam hadits di atas, tentu dia takkan ditawari kesempatan bershalat di gereja!)

Begitulah buah manis dari memperhatikan akseptabilitas (daya terima) pendengar, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Mungkin lantaran itu pula, Nabi saw. membaca al-Fatihah dan surah lain dengan suara yang cukup keras dalam shalat Shubuh, Maghrib, dan ‘Isya. Itu pun hanya pada dua reka’at pertama. Dalam shalat Zhuhur dan ‘Ashar, reka’at terakhir shalat Maghrib, dan dua reka’at terakhir shalat ‘Isya, beliau membacanya dengan suara lirih (yang hanya bisa disimak diri sendiri).

Perhatikan! Pada waktu Shubuh, Maghrib, dan ‘Isya, orang-orang dapat mendengarkan suara dengan lebih jernih daripada Zhuhur dan ‘Ashar. Adapun pembatasan pada dua reka’at pertama mungkin mengantisipasi melemahnya daya tangkap indera pendengaran makmum pada umumnya ketika mulai menginjak reka’at ketiga (kecuali pada shalat tahajud atau tarawih dan witir).

Dengan demikian, metode shalat Nabi benar-benar memperhatikan akseptabilitas pendengar. Walhasil, pembacaan Al-Qur’an di dalam shalat pun menjadi lebih efektif sebagai metode dakwah.

One thought on “Baca dengan Keras untuk Dakwah, Efektifkah?

  1. Ping-balik: Ketika Islam Mengkopi peis Arab « Generasi Biru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s