Shalatnya wanita: lebih baik di masjid atau di rumah?

Apakah wanita lebih baik bershalat di masjid ataukah di rumah? Sebagian ulama berpandangan, wanita selalu lebih baik bershalat di rumah. Sebagian lainnya berpandangan, ada kalanya wanita lebih baik bershalat di masjid. Masing-masing memiliki dasar. Mana yang dasarnya lebih kuat?

Bagi yang berpandangan bahwa wanita selalu lebih baik bershalat di rumah, dasarnya adalah sebuah hadits hasan yang mengisahkan bahwa Ummu Humaid datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Wahai  Rasulullah! Aku senang bershalat bersamamu.” Beliau menjawab, “Aku tahu itu, tetapi shalatmu di kamar tidurmu lebih baik daripada shalatmu di kamar yang lain. Shalatmu di kamar yang lain lebih baik daripada shalatmu di tempat lain di rumahmu [termasuk teras dan halaman]. Shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjid umum.” (HR Ahmad)

Bagi yang berpandangan bahwa wanita ada kalanya lebih baik bershalat di masjid, dasarnya lebih kuat, yaitu sebuah hadits shahih yang menyebut sabda Rasulullah saw, “Siapa pun yang pergi ke masjid untuk suatu keperluan, maka itulah bagiannya.” (HR Abu Daud, hadits no. 472)

Jika tujuan wanita pergi ke masjid hanya untuk shalat [seperti Ummu Humaid], lebih baik baginya bershalat di rumah saja. Lain halnya jika tujuan ke masjid [di samping untuk bershalat] adalah untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dibaca imam dengan bagus, mendengar ceramah setelah shalat, mendengarkan khutbah Jum’at, atau menemui wanita-wanita muslimah [atau bahkan pria-pria muslim] lainnya agar mereka dapat saling menolong dalam kebaikan.

Sebenarnya, kaum wanita jarang sekali mendapatkan kesempatan baik seperti itu karena mereka sering disibukkan oleh kehamilan, melahirkan, menyusui, mengasuh anak, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya. Jadi, jika seorang wanita pergi ke masjid untuk melaksanakan salah satu kepentingan di atas, kepergiannya itu adalah untuk mendapatkan kebaikan dan keutamaan. (Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 39)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s