Nabi lupa menunaikan salat dan melakukan qadha

Dalam tulisan [salinan dari blog tetangga] ini akan ditemukan bagaimana Nabi lupa menunaikan salat dan kemudian melakukan qadha atas salat yang telah berlalu itu. [Qadha = menunaikan setelah waktunya berlalu.]

Permasalahannya menjadi tidak sederhana ketika hanya melihat permasalahan ini dari satu sisi dan itu adalah kelupaan Nabi. Namun, ketika masalah ini terkait dengan salat dan banyak hadis-hadis yang bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Rasululah saw itu, membuat masalah ini perlu dicermati lebih dari yang sudah-sudah.

1. Salat subuh

Para penulis Shihhah Sittah sepakat bahwa sebagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya, mereka pernah melakukan salat subuh yang telah berlalu waktunya. Artinya mereka melakukan qadha salat subuh yang telah lewat. Dalam perjalanan itu, mereka tertidur di malam harinya dan terbangun ketika matahari telah tinggi menyinari dan menyengat mereka. Ini dapat ditemukan dalam sumber-sumber berikut:

a. Sahih Bukhari, jilid 1, hal 4-93, Bab Tayammum, Sha’id al-Thayyib, Wudhu al-Muslim, …. . Halaman 154, Bab Mawaqit al-Shalah wa Fadhluha, al-Adzan ba’da dzihabi al-Waqt. Jilid 4, hal 232, Bab Alamat al-Nubuwah fi al-Islam, hadis pertama.

b. Sahih Muslim, jilid 1, hal 6-471, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ al-Shalah, Bab Qadha al-Shalah al-Faitah wa istihBab Ta’jil Qadha’iha.

c. Sunan Turmudzi, jilid 5, hal 299, Kitab Tafsiri al-Quran, Bab 21 Wa min surah Thaha.

d. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hal 8-277, Kitab al-Shalah, Bab Man Nama An al-Shalah au Nasiyaha.

e. Sunan Abi Dawud, jilid 1, hal 118-122, Kitab al-Shalah, Bab fi Man Nama An al-Shalah au Nasiyaha.

f. Sunan Nasa’i, jilid 1, hal 331, Kitab al-Mawaqit, Bab 51, 54 dan 55. Jilid 2, hal 115, Kitab al-Imamah, Bab 47. Jilid 3, hal 230, Kitab Qiyam al-Lail wa Tathuwwu’ al-Nahar, Bab 32…

Tentu hal-hal yang disebutkan oleh para penulis buku-buku hadis di atas perlu dikaji kembali. Apa sebabnya mereka memasukkan hadis-hadis yang seperti demikian? Hadis-hadis yang menunjukkan kekurangan Rasulullah saw. Bila katakan (sebagai asumsi yang tidak berdasar) bahwa Nabi melakukan itu, apa yang mengharuskan mereka memasukkan hadis-hadis yang seperti ini? Sementara pada saat yang sama, mereka tidak menuliskan sedikit pun kekuarangan-kekurangan bahkan cacat yang dimiliki oleh sahabat seperti Muawiyah dan Yazid? Apakah mereka mau menuliskan bagaimana Khalifah Utsman bin Affan yang dipilih dalam proses sebuah syura, di mana salah satu syaratnya adalah mengikuti sunah Syaikhain (Abu bakar dan Umar), dan ternyata ia banyak tidak melakukan syarat itu? Atau sebutkan bahwa Muawiyah menentang hadis Nabi Muhammad saw dengan menjadikan Yazid bin Abihi sebagai saudaranya? Beranikah mereka menuliskan bahwa Yazid pembunuh anak Nabi Muhammad saw? dan masih banyak kejadian lainnya yang tidak diungkapkan oleh mereka.

Kembali pada masalah utama, dengan meneliti secara seksama riwayat-riwayat di atas dapat ditemukan bahwa salat subuh yang terlewatkan lebih dari sekali dan tentunya qadha salat yang dilakukan juga lebih dari sekali. Sekalipun dalam bentuknya terjadi perbedaan. Dari perbedaan dalam menunjukkan bentuk qadha salat subuh itu dapat diketahui bahwa asal masalah tidak benar.

Menarik untuk melihat beberapa riwayat lain agar kita dapat membandingkan apakah memang hadis-hadis tentang lupa dan qadha salat itu bisa diterima atau tidak. Berikut ini hadis-hadis yang dapat menjadi pembanding riwayat sebelumnya:

“Nabi Muhammad saw bersabda: “Bila salah seorang di antara kalian tidur, Setan mengikat tiga ikatan di kepalanya. Di setiap ikatan ia mengucapkan “Engkau punya malam yang panjang, tidurlah!” Bila orang tersebut terbangun dan mengingat Allah salah satu dari ikatan itu terbuka. Bila ia kemudian bangun dan berwudu, ikatan kedua juga ikut terbuka. Bila ia kemudian melakukan salat, semua ikatan di kepalanya terbuka. Dengan jiwa yang suci dan semangat ia memasuki waktu subuh. Bila ia tidak melakukan ketiga hal di atas, maka dengan jiwa yang buruk dan malas ia memasuki waktu subuh.

Ada yang bertanya kepada Rasulullah saw, “Seseorang tertidur sampai waktu subuh? (dengan membandingkan dengan yang lain, dapat dipahami bahwa pertanyaan ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak melakukan salat malam dan melakukan qadha, bukan salat subuh). Nabi Menjawab: “Setan telah mengencingi telinganya”.”

Hadis-hadis ini dapat dilihat pada:

a. Sahih Bukhari, jilid 2, hal 66, Bab al-Tahajjud bi al-Lail, Bab Idza Nama wa Lam Yushalli Bala Syaithan fi Udzunih. Jilid 4, hal 148, Kitab Bad’u al-Khalq, Bab shifat Iblis wa Junudih.

b. Sahih Muslim, jilid 1, hal 537, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Ma Ruwiya fi Man Nama al-Lail Ajm’a Hatta Ashbah.

c. Sunan Nasa’i, jilid 3, hal 201, Kitab Qiyam al-Lail wa Tathawwu’ al-Nahar, Bab al-Targhib fi Qiyam al-Lail.

Jelas, ketika salat subuh Nabi Muhammad saw terlewatkan, tidak heran bila beliau tertidur sehingga tidak melakukan salat malam.

a. Sahih Muslim jilid 1, hal 515, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab 18.

b. Sunan Turmudzi, jilid 2, hal 306, Abwab al-Shalat, Bab Idza Nama ‘An Shalatihi Bi al-Laili Shalla bi al-Nahar.

c. Sunan Nasa’i, jilid 3, hal 258, Kitab Qiyam al-Lail wa Tathawwu’ al-Nahar, Bab 64.

2. Salat Asar dan salat-salat lainnya

Sekaitan dengan salat Asar, seluruh penulis Shihhah Sittah sepakat bahwa pada waktu perang Khandaq, Nabi sempat terlupa melupakan salat Asar. Itu bisa dilihat dalam rujukan berikut:

a. Sahih Bukhari, jilid 1, hal 165, Kitab al-Shalat, Bab Qaul alRajuli Maa Shallaina. Jilid 2, hal 19, Kitab al-Jumuah, Bab al-Shalat Inda Munahadhah al-Hushun wa Liqa’ al-‘Aduw. Jilid 4, hal 52, Bab Fadhl al-Jihad wa al-Sair, Bab al-Du’a Ala al-Musyrikin bi al-Hazimah wa al-Zalzalah. Jilid 5, hal 141, Bab Ghazwah Khandaq wa Hia al-Ahzab. Jilid 6, hal 37, Tafsir Surah al-Baqarah. Jilid 8, hal 105, Kitab al-Da’awat, Bab al-Du’a Ala al-Musyrikin.

b. Sahih Muslim, jilid 1, hal 8-436, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ al-Shalah, Bab 36.

c. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hal 224, Kitab al-Shalah, Bab al-Muhafazhah Ala Shalah al-Ashr.

d. Sunan Turmudzi, jilid 1, hal 337 dan 339, Abwab al-Shalah, Bab 18. Jilid 5, hal 202, Kitab Tafsiri al-Quran, Tafsir Surah al-Baqarah.

e. Sunan Abi Dawud, jilid, 1, hal 112, Kitab al-Shalah, Bab fi Waqt Shalah al-Ashr.

f. Sunan Nasa’i, jilid 1, hal 268, Kitab al-Shalah, Bab al-Muhafazhah Ala Shalah al-Ashr. Jilid 2, hal 19-21, Kitab al-Adzan, Bab 21-23. Jilid 3, hal 83, Kitab al-Sahw, Bab 105.

Salah satu kesulitan untuk menerima bahwa Nabi Muhammad saw tidak melakukan salat Asar dalam peristiwa perang Khandaq adalah kepastian dari mereka yang mengikuti perang. Setiap yang mengikuti perang pada waktu itu tahu benar, bahwa dalam perang ada kemungkinan untuk tidak sempat melakukan salat Asar. Dan itu dapat dihindari dengan menjamak salat Zuhur dan Asar. Terlebih lagi, menjamak salat pada masa Nabi hukumnya adalah mubah. Nabi Muhammad saw sendiri beberapa kali melakukan jamak salat. Apa lagi mengetahui keadaan yang mendesak seperti perang. Katakanlah kita menerima bahwa Nabi dan sahabat tidak melakukan salat Asar. Mengapa mereka meninggalkannya secara keseluruhan? Bukankah dalam Islam telah diajarkan mengenai salat dalam kondisi berperang? Terlebih-lebih lagi dengan adanya Khandaq, melakukan salat lebih mudah tanpa perlu terlalu takut menghadapi musuh. Dan dalam sejarah hanya tercatat seorang yang mati dan itu adalah Amr bin Abdi Wad. (Bila dikaji lebih dalam, kematian Amr bin Abdi Wad oleh Imam Ali as tidak dijelaskan dalam Shihhah Sittah. Ini sebuah usaha untuk menutup-nutupi keutamaan Imam Ali as dalam perang Khandaq!). Artinya, bila hanya seorang yang tewas dalam perang Khandaq, apa yang membuat Nabi dan para sahabat tidak melakukan salat Asar?

Kita lupakan dulu masalah di atas mengenai qadha salat pada perang Khandaq terjadi ikhtilaf. Sekelompok orang mengatakan bahwa beliau mengqadha salat Asar sesudah Maghrib dan sebelum Isya. Mayoritas mengatakan bahwa beliau mengqadha sebelum Maghrib. Kelompok lainnya seperti Turmudzi dan Nasa’i, dalam sebagian riwayatnya mengatakan bahwa tampaknya bukan hanya salat Asar saja yang lewat waktunya (qadha), akan tetapi Zuhur, Asar, Maghrib dan Isya juga waktunya telah lewat. Nasa’i dalam salah satu riwayatnya mengatakan bahwa yang telah lewat waktunya hanya salat Zuhur dan Asar. Memangnya mereka berperang dari malam sampai waktu subuh sehingga salat Maghrib dan Isya menjadi qadha? Sebagian para pensyarah mengatakan bahwa hadis-hadis ini tidak bertentangan satu sama lainnya, dan boleh jadi perang Khaibar juga berlangsung selama berhari-hari. Mereka ingin membuat orang lain lupa akan kenyataan yang sebenarnya. Jika salatnya menjadi qadha sekali, tidakkah mereka harus konsenstrasi dan mengatur kegiatannya sehingga jangan sampai salatnya menjadi qadha? Pertanyaannya adalah kekhususan apa yang dimiliki oleh perang Khandaq sehingga begitu banyak salat yang harus diqadha? Memangnya perang-perang yang lainnya bagaimana sehingga tidak satu pun salat diqadha? Apakah perang Khandaq lebih hebat dari perang Shiffin? Jawabannya adalah tidak. Perang Shiffin berlangsung lama, bahkan salah satu malam di perang Shiffin disebut Lailah al-Harir, di mana perang berlangsung hingga pagi, tapi tidak ada berita mengenai salat yang terlupakan dan qadha salat.

Ibnu Abi al-Hadid dalam mukaddimahnya ketika memberi syarah atas Nahjul Balaghah mendeskripsikan ibadah Imam Ali as sebagai berikut: “Apa yang kalian bayangkan dari seseorang yang begitu memperhatikan ibadahnya. Bahkan pada malam Lailah al-Harir di perang Shiffin, ketika panah berseliweran di sisinya, tanpa terlihat ada perasaan takut, ia tetap melanjutkan ibadahnya”.

Apakah ada seorang muslim dapat meyakini bagaimana Imam Ali as yang nota bene adalah pengikut Rasulullah saw tidak punya salat qadha di perang Shiffin sementara Rasulullah saw dalam perang Khandaq lupa akan salat itupun beberapa salat?

Menurut Ahli Sunah, salat Asar adalah salat Wustha, sebagaimana ditekankan dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 238 “Peliharalah semua salat(mu), dan (peliharalah) shlat wusthaa”. Sementara itu, menurut Syiah salat Wustha adalah salat Zuhur. Dalam Ahli Sunah sendiri masih ada perselisihan mengenai salat apa sebenarnya salat Wustha itu, karena sebagian dari riwayat Shihhah Sittah menyebutkan bahwa salat Wustha adalah salat Zuhur. Namun, mayoritas riwayat menyebutkan bahwa salat Wustha adalah salat Asar.

Sekarang kita akan mencoba melihat bagainama riwayat-riwayat menyifati orang-orang yang meninggalkan salat Asar.

“Seseorang yang terlupa menunaikan salat Asar, sama seperti orang yang harta dan keluarganya terpisah darinya.”

“Seseorang yang terlewatkan salas Asarnya, maka amal perbuatannya akan lenyap”.

Riwayat-riwayat ini dapat dilihat pada:

a. Sahih Bukhari, jilid 1, hal 145 dan 154, Kitab al-Shalah, Bab Atsima Man Fatathu al-Ashr, Bab Man Taraka al-Ashr dan Bab al-Takbir bi al-Shalah fi Yaum Ghayyim.

b. Sahih Muslim, jilid 1, hal 6-435, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ al-Shalah, Bab al-Taghlizh fi Tafwit Shalat al-Ashr.

c. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hal 224, Kitab al-Shalah, Bab al-Muhafazhah Ala Shalat al-Ashr. Hal 227, Bab Miqat al-Shalah fi al-Ghayyim.

d. Sunan Nasa’i, jilid 1, hal 269-271, Kitab al-Shalah, Bab 15 dan 17. Hal 289, Kitab al-Mawaqit, Bab 9.

Dengan melihat data-data yang disebutkan, jawaban apakah Nabi lalai melakukan salat Asarnya karena terfokus pada perang, kembali kepada diri kita masing-masing.[infosyiah]

9 thoughts on “Nabi lupa menunaikan salat dan melakukan qadha

  1. Salam ‘alaikum.
    Mungkin ada kesalahan cetak / kekeliruan sedikit. Seingat saya, orang yg disebut oleh Muawiyah sbg saudaranya adalah Ziyad, bukan Yazid. Jadi, yg benar Ziyad bin abihi, bukan Yazid bin abihi. Bagaimana?
    Salam ‘alaikum.

  2. setelah saya membaca tenatng nabi pun meng-khada solat, tertarik jugam yang menjadi pertanyaan adalah kalopun itu hadist-nya sohih dan bisa di pertanggung jawabkan, setau saya nggak ada yang namanya khada, yang ada cuma meng-khashar dan men-jama’.

    agar lebih mendetail lagi pembahasannya coba uranikan dan cantumkan redaksi hadist nya, barangkali ada pembaca yang nggak punya diantara buku-buku atau kitab-kitab yang tercantum tadi.

    atas semuanya saya haturkan terima kasih. barakallah.

  3. Assalamualaikum Wr.Wb
    1. Bagaimana sesungguhnya hukum Qadha?tolong dicantumkan hadist yang mendukung
    2. Saya berdiskusi dengan Ustadz, bahwa tidak ada yang namanya meng-Qadha ( mengganti ) shalat, bahkan beliau berkata haram hukumnya???
    3. Apakah yang dimaksud aliran Wahabi?Seperti apa ajaran dalam aliran ini?
    Terima Kasih

  4. 1. Yang saya pahami, Nabi Muhammad adalah manusia terpilih dan bila akan melakukan kesalahan/kelalaian segera diingatkan oleh Allah SWT.
    2. Tapi kalau memang hadisnya shahih, barngkali untuk memberikab pembelajaran kepada ummat agar kalau lupa/tertidur ada jalan keluarnya, asal tidak jadi kebiasaan.
    Wassalam.

  5. mengapa cara praktik solat ada berbagai ragam dalam islam juga bacaan dalam solat?

    Jika dikaitkan dengan hadis popular “solatlah sebagaimana kamu melihatku bersolat?”

    Siapakah yang menurut dan mengingkar dalam mempratik?

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s