Pangkal Sukses dan Bahagia

Subuh baru menjelang. Sebuah waktu yang biasanya masih menghanyutkan sebagian besar kita di alam mimpi atau bahkan melelapkan. Namun, sejak kemarin tak lagi demikian. Sebagian besar kita telah memulai aktivitas sejak dini hari. Ada yang khusyuk tertunduk berdzikir di atas sajadah, ada yang perlahan-lahan mengaji Alquran, ada yang penuh perhatian membangunkan anak-anaknya dan menemani mereka terkantuk-kantuk bersahur.

Begitu dini kegiatan sehari-hari dimulai. Bahkan, sebelum muazin mengumandangkan seruannya “Ayo shalat!” dan “Ayo raih sukses” lewat azan di masjid. Subuh pun berlalu. Timur secara berangsur membuka cahayanya untuk membuat gradasi gelap-terang bergulir mengikuti waktu. Bayangan pohon-pohon dan rumah dalam temaram dan kesenyapan pagi itu membentuk siluet berlatar langit yang memerah hingga menjadi seperti lukisan natural. Sisa lampu luar yang belum dimatikan dan satu dua kicau burung liar yang terdengar menjadi aksen menyegarkan. Sebuah suasana sempurna buat merancang untuk apa hari akan diisi.

“Pagi itu indah.” Saya pernah menulis artikel berjudul itu di majalah psikologi populer Anda tahun 1982. Pagi kemarin memberi keindahan serupa. Tentu begitu pula pagi-pagi berikutnya.

Bumi tak berhenti berputar hingga matahari tampak meninggi. Aktivitas pun berjalan seperti umumnya kegiatan sehari-hari. Bisa sama saja dibanding hari-hari biasa. Cuma satu hal yang tentu saja berbeda. Yakni, bahwa hari itu berpuasa. Tidak makan, tidak minum, juga tak melakukan apa pun yang tak dibolehkan selama berpuasa. Kita dituntut untuk mengendalikan diri. Sebuah tuntutan yang masuk akal karena, seperti diajarkan Nabi, hawa nafsulah musuh utama diri sendiri.

Hari terus berjalan hingga tanpa terasa kembali menuju petang. Sebuah saat yang menjadikan tegukan pertama minum dan suapan pertama makanan terasa terlezat dibanding waktu-waktu lainnya. Sebagian besar kita pun mengakhiri kesibukan bekerja untuk meluangkan waktu lebih banyak buat bertadarus mengaji, shalat, atau mengikuti majelis-majelis ilmu. Sebagian besar kita menjadi lebih banyak berdialog dan bersandar pada Ilahi, hal yang di hari-hari biasa cukup sering terlupakan. Kita umumnya merasa lebih tenang, tak banyak meninggikan suara, bahkan seperti lebih bersabar dalam berhadapan dengan segala keadaan. Begitulah hari-hari berpuasa.

Kita semua mendambakan sukses dan bahagia. Bukan hanya di akhirat kelak, melainkan juga di dunia yang sekarang nyata. Jika terus menjalani hari-hari sebagaimana hari-hari saat berpuasa sekarang, apa yang dapat menghalangi kita untuk sukses dan bahagia? Kita memperoleh enerji dinihari yang dijanjikan Tuhan dalam Alquran akan mengantarkan pada maqam al-mahmuda atau “jenjang yang mulia”. Kita akan dibimbing langsung oleh Ilahi tanpa perantara siapa pun –tidak oleh ustadz, bahkan oleh wali maupun Nabi– setelah melalui persapaan ruhani dalam bertahajud maupun Subuh berjamaah di masjid. Bimbingan apa yang dapat bersanding dengan bimbingan langsung dari Ilahi?

Keterhubungan kuat gelombang kita dengan Ilahi itu terus terjaga lewat pengendalian diri. Kita tak merusak gelombang itu dengan berbuat maksiat ketika meninggalkan mubazir dan sia-sia pun kita berani. Kita tak tergoda korupsi karena bersama Ilahi kita sama sekali tak khawatir terhadap masa depan kehidupan diri. Kita akan lebih sedikit berbuat salah dan keliru karena pikiran lebih jernih dan tak terkontaminasi oleh apa pun. Kita akan banyak menuai kebaikan orang lain karena benih kebaikan yang kita tebarkan pada sesama juga lebih banyak. Kita hampir selalu bisa meraih cita-cita dan keinginan baik karena kita adalah pribadi yang lebih sabar (lebih hati-hati dan tak kenal lelah) untuk berusaha meraih cita-cita dan keinginan baik itu. Dengan itu semua, apa yang dapat menghalangi kita untuk sukses dan bahagia?

Maka, semestinya kita jadikan puasa sekarang sebagai momentum untuk menjadikan diri sebagai pribadi baru yang lebih sukses dan bahagia. Dengan begitu secara bersama kita dapat menjadikan bangsa ini sebagai bangsa baru yang lebih sukses dan bahagia pula.

(Zaim Uchrowi )
source: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=306904&kat_id=19

5 thoughts on “Pangkal Sukses dan Bahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s