Ajaklah Anakmu Shalat !

Alkisah, Abu Bakar As-Shidiq Radhiyalllahu’anhu hendak berangkat menuju masjid untuk menjadi imam shalat. Ketika melewati rumah putranya Abdullah, ia mendengar suara candaan mesra Abdullah dengan istrinya Atikah, seorang wanita yang cantik sholihah, yang baru saja dinikahi anaknya beberapa waktu lalu. Abu Bakar berlalu saja menuju masjid, dengan harapan sang anak akan segera menyusul bersama orang-orang beriman lainnya untuk melaksanakan sholat fardhu berjama’ah.

Begitu selesai mengimami sholat, yang pertama kali dicari Abu Bakar dari jamaahnya adalah anaknya,Abdullah. namun Abdullah tidak ada diantara para jamaah lainnya. Ketika pulang, Abu Bakar melewati rumah anaknya kembali, masih terdengar suara canda mesra penuh kebahagiaan dari sepasang pengantin baru. Abu Bakar beristighfar berkali-kali, dengan pelan ia ketuk pintu rumah anaknya.

Abdullah begitu terpengarah melihat yang datang adalah ayahnya. Begitupun Atikah. Kepada Abdullah, Abu Bakar berkata : “Wahai anakku, kamu dapatkan kebahagiaan duniawi bersama istrimu, tapi engkau lalaikan perintah Allah, engkau lalaikan sholat berjama’ah”

“dan kau Atikah, engkau tidak bisa membahagiakan anakku. Kecantikamu, keikhlasanmu untuk berbakti kepada suami, telah menyebabkan suamimu lalai dalam mengerjakan shalat berjamaah”

“maka hari ini..” kata Abu Bakar kepada Abdullah, “ceraikanlah istrimu! pisahkan dia dari tempat tinggalmu. Talak dia! Dan anggap dia seperti wanita yang lain juga” ujar Abu Bakar tegas. Kedua pasangan itu pun pucat pasi. Abdullah pun akhirnya menceraikan Atikah.

Waktu berjalan. Abu Bakar melihat perubahan pada anaknya. Abu Bakar melihat penderitaan seorang suami yang terpaksa menceraikan istri yang sangat dicintainya. Sampai suatu hari, Abu Bakar mengizinkan Abdullah untuk rujuk kepada Atikah. Melainkan dengan syarat, jadikan ini pelajaran. “Jadikan ini sebagai pelajaran kecintaan kepada jihad fi sabilillah diatas kecintaanmu kepada siapa saja, termasuk kepada istrimu Atikah”.

Peran Orang Tua
Cuplikan cerita diatas merupakan pelajaran yang bisa direnungi bersama, betapa para sahabat menjadikan sholat berjama’ah sebagai prioritas utama di atas apapun. Dan yang tak terlupakan dari siratan cerita tersebut adalah peran Abu Bakar. Peran seorang ayah dalam mendidik anaknya untuk sholat. Begitu perhatiannya hingga ia tidak lepas tanggung jawab meskipun sang anak sudah beranjak dewasa.

Hal tersebut juga sudah dicontohkan oleh Bapak para Anbiya, Ibrahim as. Ketika ia diperintahkan Allah untuk meninggalkan anak dan istrinya di Makkah, ia berdo’a “ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat….” (Qs: Ibrahim : 37).

Dari sana terlihat bagaimana peran seorang Ibrahim dalam pendidikan terhadap anaknya. Langkah awal yang Ibrahim lakukan dalam pendidikan anaknya adalah mencarikan lingkungan yang dekat dengan masjid. Karena dari sanalah akan tebentuk anak-anak yang cinta masjid, dan terbentuk di lingkungan yang islami.

Dalam surah Ibrahim ayat 40 juga dipertegas bagaimana Ibrahim mendoakan anak cucunya agar senantiasa mendirikan sholat. Hal ini menekankan bahwa memang sholat adalah hal yang harus dilakukan di setiap masa, bukan hanya pada zaman ibrahim, melainkan cucu dan keturuannya. Sholat merupakan pembeda antar muslim dengan kafir, pembeda antara umat Muhammad dengan umat yang lainnya.

Rasulluah dalam haditsnya juga memerintahkan kepada orang tua untuk mengajarkan anaknya sholat ketika usia 7 tahun, dan jika pada usia 10 tahun belum mengerjakan sholat, orang tua diperbolehkan untuk memukulnya. Ini menunjukkan bahwa mendidik sholat bukanlah hal yang mudah. Bahkan harus dimulai sejak usia dini, bukan baligh.

Dalam ilmu pendidikan anak, seorang anak usia 0-5 tahun merupakan ‘peniru’ yang baik. Hendaknya orang tua peka dan menjadikan ini kesempatan untuk memberikan tauladan yang bisa ditiru oleh anak-anak mereka. Termasuk dalam masalah sholat. Rasulullah pun mencontohkan hal yang sama, dalam hadits dari Abu Qatadah disebutkan “Rasulullah sholat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika ia sujud, diletakkanya Umamah. Dan bila ia berdiri digendongnya”. Sungguh sebuah tauladan yang sempurna, bagaimana menanamkan positive feeling tentang sholat pada anak di usia dini.

Sehingga ketika anak berusia 7 tahun, orang tua tidak lagi sulit memerintahkan anaknya, karena memang sang anak sudah mendapatkan tauladan yang biasa ia lihat sehari-hari. Namun yang memprihatinkan sekarang, ternyata masih banyak orang tua yang tidak mengerti akan hal tersebut. Anak hanya diperlihatkan akan kesibukan orang tuanya, yang berangkat kerja sebelum subuh, dan pulang setelah isya. Lalu, kapan anak melihat orang tuanya sholat?

wirianingsihKeluarga Wirianingsih nampaknya patut dijadikan contoh. Ibu dari sepuluh anak penghafal al-Qur’an ini juga menceritakan, masa-masa ketika pertama ia dan suami mendidik anak-anaknya untuk sholat berjama’ah. “ Langkah awalnya adalah memberikan tauladan” ujar wiwi, sapaan akrab wirrianingsih, “dan ini tak lepas dari peran bapaknya anak-anak”.

Keberhasilan Wiwi dalam mendidik anak-anaknya memang sempat menjadi perhatian para ibu. Bagaimana tidak, anak-anak dari Istri Mutammimul Ula, anggota komisi II DPR dari fraksi PKS ini, senantiasa dekat dengan masjid. Bahkan ketika SC bersilaturahmi ke rumahnya -di komplk DPR Kali Bata-menjelang maghrib, anaknya yang sedang asyik bermain sepeda pun bergegas siap-siap untuk sholat maghrib berjamaah di masjid. “Alhamdulillah, mereka tidak sulit lagi disuruh. Kalo sedang main komputer siang-siang misalnya, kemudian terdengar adzan, dengan refleks mereka langsung mematikan komputer dan bergegas ke masjid” ujar aktivis Persatuan Muslimah ini. Maka tak heran jika anak-anaknya hafal siapa saja anggota DPR yang biasa sholat subuh di masjid dan yang tidak.
Namun Wiwi mengelak jika semua itu adalah hasil dari jerih payahnya sendiri dalam mendidik anak. “Pendidikan anak adalah integrated orang tua” kata Wiwi. Dan hal ini ia pertegas lagi dalam kata pengantar yang ia tulis, di sebuah buku bertema keluarga, disana ia menjelaskan bahwa struktur pendidikan rumah tangganya dibangun dari setting pendidikan sang suami. “Yang membentuk anak-anak, termasuk saya, adalah Bapaknya. Saya pelaksananya saja. Ibarat membangun bangunan, suami saya membuat kerangkanya, dan saya yang mengisinya” jelas Wiwi.

Terlebih dalam mendidik anak untuk sholat berjama’ah di masjid. Wiwi mengaku suaminyalah yang paling berperan disini. “sholat di masjid itukan sunah yang utama bagi laki-laki, jadi Bapaknya yang lebih berperan. Saya hanya mengkondisikannya saja” kata wiwi .

Hal tersebut juga diakui oleh Muatammimul Ula, sejak anak pertamanya sudah dibiasakan dibangunkan subuh hari. Dan ketika anak-anak sudah bisa disiplin dalam hal ‘ngompol’, ia selalu mengajaknya ke masjid. “Biasanya saya bangunkan, kalo susah saya gendong ke kamar mandi untuk di wudhukan, pokoknya bagaimana caranya agar mereka harus sholat di masjid” ujar pria yang akrab disapa Tamim ini. Wiwi pun demikian, ia perlu menyiapkan kokoh dan gamis baru agar anak-anaknya semangat bangun untuk sholat di masjid, ” Biasanya anak-anak senang kalo pake kokoh baru, atau pakai gamis. Suasananya jadi ada dan mereka jadi semangat ” kata Wiwi menjelaskan.

Mendidik anak untuk istiqamah dalam sholat juga bukanlah hal yang mudah, hal ini terlihat dari bagaimana cerita Abu Bakar mendidik anaknya Abdullah. Begitupun bagi kedua pasangan ini. Tamim yang sibuk dengan pekerjaannya di bangku DPR, dan Wiwi yang sering mendapat undangan untuk mengisi acara di beberapa tempat ini, selalu berusaha untuk tetap mengkontrol aktifitas anaknya meskipun hanya melalui telepon.

Orang tua memang mempunyai tugas yang berat dalam hal ini. Namun semuanya akan lebih mudah ketika orang tua sadar bahwa anak adalah titipan/ amanah dari Allah Swt. Sehingga sudah menjadi kewajiban orang tualah mendidik anak untuk mencintai Allah. Sebagaimana Alqur’an menyiratkan sebuah pesan kepada para orang tua, tentang bagaimana Ayah dambaan Alqur’an ini, Luqman, menasihati anaknya, ”Ya Bunayya laa tusyrik billah. Inna syirka ladzulmun ’adzhim.” “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Kini, sudahkah hal demikian kita lakukan?

*Azti, Pernah di muat di SC Megazine

4 thoughts on “Ajaklah Anakmu Shalat !

  1. “maka hari ini..” kata Abu Bakar kepada Abdullah, “ceraikanlah istrimu! pisahkan dia dari tempat tinggalmu. Talak dia! Dan anggap dia seperti wanita yang lain juga” ujar Abu Bakar tegas. Kedua pasangan itu pun pucat pasi. Abdullah pun akhirnya menceraikan Atikah.
    Mungkin redaksi kalimat ini perlu dimaknai sebagai talak 1 saja, sebab kalau cerai benaran mereka akan susah rujuk kecuali telah sama-sama menikah dan kemudian menikah kembali.
    Salam kenal,

  2. trims.mudah-mudahan dg baca tulisan ini, jadi terbuka mata hati bahwa pendidikan sholat tetap mutlak diberikan kepada anak-anak kita meski mereka dah dewasa. apalagi di jaman sekarang dimana kondisi dunia makin gak menentu, semoga bisa jadi bekal and benteng bagi anak-anak kita…

  3. Terimakasih informasinya.
    Anak memang bukanlah hasil reproduksi kedua orang tuanya, melainkan format regenerasi kedua orang tuanya.
    Ketika kedua orang tuanya adalah orang-orang yang shaleh dan shalehah, maka diharapkan anaknya kelak menjadi generasi yang shaleh (bila ia laki-laki) atau shalehah (bila ia perempuan).
    Untuk itu anak perlu dididik dengan baik, dan sebaik-baik pendidikan adalah dengan contoh.
    Oleh karena itu setiap orang tua muslim hendaknya mampu berperan sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik).
    Caranya, orang tua tersebut hendaknya mencontoh Rasulullah Muhammad SAW yang FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh).
    Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s