Jilbab, Tunangan, Mahar, dan Istikharah

P. Shodiq, sy ingin menanyakan “Apakah pertunangan itu termasuk hal yang dibolehkan?” Sy sekarang memiliki seorang “tunangan”, wanita tersebut dikenalkan oleh seseorang kepada sy. Awalnya kita telp. dan SMS-an dan setelah itu kita sering bertemu. Sy tidak ingin mengikuti model “Pacaran pra Nikah”, akhirnya sy katakan kesungguhannya untuk memperisterinya. Dia dan keluarganya tidak menolak dengan syarat tertentu. Salah satu syaratnya dia ingin menikah selepas dia selesai kuliah. Waktu terus berjalan, dan akhirnyapun sy bertunangan dengannya. Tapi sy ragu “Apa dia jodoh terbaik untuk sy?” karena:

  1. Dia enggan menggunakan hijab, padahal sy sudah seringkali menasehatinya.
  2. Dia meminta jangka waktu seperti sy ceritakan di atas, yang mana sy khawatir tidak dapat melaluinya.
  3. Dia meminta mahar yang relatif tinggi.
  4. Sy pernah menguji dia tentang loyalitasnya pada keluarga saya, tetapi dia sepertinya kurang menerima keadaan keluarga saya.

Karena itu sy ingin jawaban Bapak, sebagai bagian dari istikharah sy.

Jawaban M Shodiq Mustika:

Aku senang kau berkonsultasi. Sebab, berkonsultasi itu merupakan bagian dari istikharah. Hanya saja, aku agak penasaran mengapa kau berkonsultasi kepadaku. Apakah kau sudah membaca buku Istikharah Cinta?

Aku asumsikan kau sudah membaca buku tersebut. Dengan demikian, jawabanku cukup singkat-singkat saja. Kalau ada bagian yang belum jelas, bolehlah kau bertanya lagi.

Pertama, tidak ada larangan untuk bertunangan dalam Islam. Sebagian ulama menghukumi mubah, sebagian lainnya justru menghukumi sunnah. Dalam bahasa Arab, pertunangan itu disebut “khitbah” (peminangan).

Berikutnya, aku tidak ragu bahwa tunanganmu itu merupakan jodoh terbaikmu. Sebelum bertunangan, kalian sudah sering bertemu, sering telponan dan SMS-an. Tentu ada banyak hal pada dirinya yang sangat positif dalam pandanganmu ketika itu, sehingga kau bertunangan dengannya.

Persoalan terpenting yang sedang kau hadapi saat ini menurutku adalah meredupnya rasa cintamu kepadanya. Untuk mengatasinya, silakan baca artikel “Kalo belum ketemu jodoh gimana? (1)

Sementara itu, kau perlu lebih intensif dalam bertukar pikiran dengannya dan menghargai pandangan-pandangannya. Bermusyarahlah dengannya. Kalau kau merasa kurang mampu memenuhi maharnya, curhatlah kepadanya dengan lembut bahwa bagimu, mahar yang dimintanya agak berat. (Namun kalau kau sebetulnya mampu, anggaplah mahar yang tinggi itu sebagai sedekahmu kepadanya.) Juga mintalah saran kepada calon mertuamu mengenai bagaimana mengatasi kekhawatiranmu melewati jangka waktu yang ditetapkan.

Kau tidak perlu menguji loyalitasnya kepada keluargamu. Yang lebih perlu adalah bekerja sama menumbuhkan loyalitas kepada keluarga pasangan. Kalau pun loyalitasnya tidak sampai 100%, 55% pun mungkin sudah memadai untuk membina rumahtangga yang sakinah. (Tentu saja, kita tidak pasrah menerima angka terendah, tapi tetap mengupayakan peningkatannya semaksimal mungkin.)

Mengenai jilbab (hijab), perlu kau pahami bahwa ini merupakah masalah khilafiyah, bukan perkara prinsip. Sebagian ulama mewajibkannya, tetapi sebagian lainnya “hanya” mensunnahkannya. Boleh-boleh saja kau memegang pendapat bahwa jilbab itu wajib. Bagus itu. Bagus pula kau berdakwah kepadanya untuk meyakinkan dia supaya mengikuti pandanganmu. Namun apabila dia bersikeras memegang pendapat bahwa jilbab itu tidak wajib, maka janganlah memaksakan kehendakmu. (Lihat “Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!“.) Hargailah pandangannya yang berbeda denganmu.

Demikian jawabanku dan saranku. Wallaahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s