Shalat Sunnah Tidak Perlukah Perhitungan?

Saat blogwalking tadi, kujumpai sebuah tanya-jawab yang menarik. Pertanyaannya: “Ustadz, saya mohon penjelasan mengenai hukum melaksanakan shalat sunnah awal & akhir tahun serta shalat sunnah rajab, karena di tempat saya shalat itu marak dilaksanakan. Saya sendiri dulunya termasuk orang yg melaksanakan, kemudian saya mendapat keterangan dari teman saya yg mesantren di beberapa pesantren di Garut dan Sukabumi serta Cianjur bahwa hukum hadistnya maudlu’ ( sangat dhoif ) sehingga tidak boleh dipakai menjadi dasar hukum dia juga memperlihatkan referensi dari dua kitab yaitu Fathl Mu’in dan Kifayatul Akhyar yang setahu saya itu kitab fiqh yg mu’tabar. Itu menjadi konflik di hati saya karena selama ini saya melaksanakan berdasarkan kitab tasawwuf ( qhoniyyah /ghunyah dan khozinatul asror ), menurut ustadz pendapat mana yg harus saya ikuti…?”

Pertanyaan itu aku jumpai di situs BuntetPesantren.org. Terhadap pertanyaan itu, sang ustadz menyampaikan jawaban yang sangat bagus. Kalau mau tahu jawaban lengkapnya, silakan baca “Shalat Sunnah kok Perhitungan“. Di bawah ini, aku kutipkan sebagian saja, yang menurutku paling menarik, untuk kemudian aku komentari sedikit.

Di situ disebutkan:

sebuah hadits terkenal contohnya ini saya ambil dari kitab shoheh Bukhari no. Hadits 44. Hampir di semua kitab hadits ada termasuk dalam Kitab Muwatto Ibnu Malik.:

…جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ….. هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ

“Artinya: seorang laki-laki dari Najd bertanya tentang Islam kepada Rasulullah saw lalu dijawab: “Ada lima sholat sehari semalam.”
“Adakah lagikah selain sholat lima waktu buatku?”
“Tidak ada! Kecuali salat tatowwu’ ”
“Lalu berpuasa Ramadhan” Lanjut sabda Nabi Saw yang mulia.
“Ada lagikah selain puasa ramadhan buatku?”
“Tidak ada! Kecuali tatowwu’ ”
“Kemudian berzakat” Sabda Nabi Saw yang mulia.
“Ada lagikah selain berzakat buatku?”
“Tidak ada! Kecuali tatowwu’ ”
“Demi Allah, saya tidak akan menambah dan menguranginya.” Sahut lelaki itu sambil berlalu.
“Baguslah jika benar (adanya).”

… Jadi shalat [sunnah] yang dikerjakan itu masuk kategori shalat TATOWWU’ sebuah shalat yang dianjurkan ditambah oleh nabi dengan ungkapan Tatowwu’… Bahkan tatowwu’ ini bukan shalat saja, sedekah tatowwu’, puasa tatowwu’ termasuk puasa rajab dan lain-lain.

Namanya tatowwu’ adalah tambahan … Di buntet pesantren di Rumah Kyai Izzuddin (alm) dilakukan shalat sunnah awal dan akhir tahun. Di tempat kyai lain tidak dikerjakan secara bareng2. Mungkin kyai lain mengerjakan secara sendiri mungkin juga tidak. Apa pasal, karena sifatnya sunnah, boleh dikerjakan boleh juga tidak. Jadi di Buntet saja berbeda, apalagi di pesantren lain.

Tetapi jangan kemudian masalah sunnah ini “diharamkan” apalagi diumumkan ketidak sukaanya. … dan hayo jangan perhitungan kalau mau mengerjakan shalat sunnah, seperti juga jangan perhitungan kalau mau sedekah dan puasa karena Nabi menggaransi dengan istilah TATOWWU’ untuk tambahan amalan-amalan wajib. Afwan, Wallhu a’lam.

Komentar singkatku:

Ya, aku setuju bahwa kita tak perlu “perhitungan” dalam melakukan amalan sunnah itu, asalkan kita menempatkannya sebagai TAMBAHAN terhadap amalan wajib. Jangan sampai kita memperlakukannya sebagai amalan utama yang lebih diutamakan daripada amalan wajib. Jangan pula kita mengamalkannya secara berlebihan.

Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, ”Datanglah tiga golongan yang mendatangi rumah isteri-isteri Rasulullah secara diam-diam dan menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberikan lalu mereka membicarakannya dan berkata di mana posisi kita dibanding dengan Rasulullah, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Salah satu di antara mereka berkata, ”Saya akan selalu shalat malam terus menerus.” Yang lain berkata, ”Saya akan berpuasa terus menerus sepanjang tahun.” dan yang lain lagi berkata, ”Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka seraya berkata, ”Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya akulah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku bershalat [malam] dan [juga] tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan golonganku. (HR. Mutafaqun ’alaihi)

Aisyah bercerita, ”Ketika Rasulullah saw. masuk ke rumahku, pada saat itu saya sedang duduk bersama seorang wanita lalu beliau bertanya, ‘Siapakah orang ini?’ ‘Ini adalah fulanah yang berkenalan dengan shalatnya,’ jawabku. Kemudian beliau bersabda, ‘Kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kamu merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus menerus sekalipun sedikit.’” (HR. Mutafaqun ’alaihi).

2 thoughts on “Shalat Sunnah Tidak Perlukah Perhitungan?

  1. yah, tetapi kita hrus tahu jga. yang d maksud itu, amalan sunnah yanng pernah d contohkan oleh rasulullah kita. itu yang benar. tpi klw sholat sunnah yang tidak ada tuntunannya dri nabi kita, itu namanya bid’ah. menambah” dalam perkara agama. kalau stiap orang d perbolehkan melakukan sholat sunnah, sesuai diri sendiri, pasti bervariasi. sehingga, orang awam akan menganggap, itu dari nabi. pdahal tak ada riwayatnya. atau haditsnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s