Jika ini Sholat Terakhirku…

Bulan februari ini bagi saya, banyak sekali hikmah. sangat banyak. kadang pun saya tidak sempat hanya untuk sekedar berbagi kisah itu dengan rekan-rekan. beberapa waktu kedepan saya agendakan untuk kembali mendalami sholat. melalui chating dengan teman-teman yg OL, saya bertukar informasi tentang sholat. baik info dari buku (Pedoman Sholat : th.1951), website (www.salatsmart.wordpress.com), dan yang tidak kalah lagi lagu-lagu (Letto – Sandaran Hati) saya berpikir; belajar itu bisa dari mana saja. berikut salah satu hikmah bulan februari ini, merupakan note dari fesbuk teman yg langsung copast aja:

Kapan Giliran Saya Tiba ?

Gila….. untuk kesekian kalinya saya telat nge-lab. Padahal hari itu, jam tiga pagi saya sudah bangun. Cuci muka, terus jungkat-jungkit sekedar menjaga agar catatan muhasabah harian tidak bolong. Menjelang subuh sekitar jam empat, masih saya sempatkan buka laptop teman menyelesaikan entry data kependudukan Jakarta. Subuh datang, teman-teman di kontrakan kami bangun. Beberapa sudah mandi, kami pun bareng pergi ke masjid terdekat. Ba’da subuh, saya sempatkan lihat catatan.

Oh … ada titipan salah seorang karyawan di Lab Mektan. Pak Yun namanya … beliau minta dibawakan buku tuntunan sholat. Saya sendiri baru belakangan ini sering ngobrol dengan beliau. Mungkin karena Pak Yun lebih banyak berada di lapangan daripada di lab. Orangnya hangat dan bersahaja. Tidak pernah beliau mengeluhkan pekerjaannya. Tidak juga dalam aksi ngomongin orang lain.

Kemarin, kami bertemu di lab. Agak sore. Seperti biasa, hari itu, saya membawa buku bacaan. Kali ini Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi Al Bantani. Siapa tahu, kalau sewaktu-waktu semangat saya sedang kumat, bisa lah buku ini dibaca di waktu istirahat atau sambil menunggu Bis Kuning.
Sambil bercerita tentang pengalaman beliau melakukan penyelidikan tanah di Papua, Pak Yun merapikan “koleksi” buku yang berserakan di meja saya. Ada satu yang menarik perhatian beliau, judulnya saya lupa. Tentang tuntunan sholat.
Dengan semangat, Pak Yun bermaksud meminjamnya. “Nas, minjem buku yang ini ya! Saya pengen belajar lagi nih, tentang sholat”
Saya putar rekaman ingatan di otak. Ternyata itu buku pinjaman, bukan punya saya, “Itu punya Parlan, Pak. Kalau mau besok coba saya bawakan yang serupa punya saya”
“Ya, boleh-boleh. Jangan lupa ya!” Beliau pun pamit pulang

“Waduh … di mana nyarinya?”. Sudah lama saya nggak baca buku. Apalagi yang “begituan”. Saya sangat yakin dengan cara sholat yang selama ini saya lakukan. Bongkar-bongkar tumpukan buku di rak dan kardus sebentar. Wah, tidak ketemu. Akhirnya saya putuskan, “Ah, besok saja lah. Toh, hari Jumat besok Pak Yun masuk Lab”

Sarapan, menunggu giliran kamar mandi, saya tidur leyeh-leyeh. Bablas…. Bangun jam 8.30 saya panik. Mandi kucing lima menit, berpakaian sekenanya saya berangkat.

Sampai di lab, saya heran. Pintu-pintu lab terkunci. Ruangan gelap. Belum sempat bertanya ke petugas jaga. Mata saya menangkap selembar pengumuman sebesar A1 tertempel di kaca pintu utama.

Innalillahi Wa inna ilaihi rajiun
Telah berpulang ke rahmatullah Sdr/rekan kita
Bapak Maryunardi (Pak Yuyun)
karyawan Laboratorium Mekanika Tanah….
…………

Duh Gusti, lemas lutut saya.
Bukankah beliau kemarin sehat.
Bukankah beliau kemarin semangat untuk belajar sholat.
Bukankah kemarin bermaksud meminjam buku dan tidak saya berikan.
Bukankah saya tidak terlalu serius menunaikan amanah mencari buku serupa.
Bukankah besok, bisa saja tiba giliran saya…..

Depok, 20 Februari 2009

***

aku menghela nafas panjang setelah membaca tulisan tersebut di blog seorang sahabat. terdiam lama memandangi kolom ‘komentar’ yang ingin kutulis.

“Allah….” bisikku.

adzan maghrib berkumandang. semakin terdengar jelas di telinga menyusup ke seluruh persendianku. aku tau, ada yang mengganjal di hati ini. tiba-tiba aku jadi merasa amat rindu pada-Nya…

sajadah terbentang ke arah kiblat. mukena putih membalut seluruh auratku. ya, aku akan bertemu-Nya. aku akan menghadap-Nya…

takbir..

rukuk..

sujud..

ya, aku sedang menghadap-Nya.

hingga salam menutup shalatku..tiba-tiba dada ini sesak..

ku angkat tangan hendak ingin bermunajat..

dan tak sadar hati telah berucap :

“Allah.. bagaimana jika ini shalat terakhir ku..?

***

14 thoughts on “Jika ini Sholat Terakhirku…

  1. Setelah baca tulisan ini…. saya merinding, lemas + takut…Pokoknya semua jadi satu. Takut hari ini…hari terakhir saya sholat. Takut klo tiba2 ada malaikat Izroil di sebelah saya… adu.u..u..h … saya belum siap.

  2. subhanallah..
    jujur saya sendiri belum siap. tapi
    setiap orang pasti berpulang kapadaNya dengan cara yang berbeda,
    tapi berpulang dalam keadaan yang suci bukankah itu lebih baik.

  3. Ping-balik: SAlAT TERAKHIR « AkangFais

  4. Subahanallah….
    setelah baca tulisan ini saya meneteskan air mata.
    saya berfikir, bagaima jika itu saya.
    siapkah saya?

  5. Subhanallah..saya sampai nangis baca postingan.. Ngerasa belum sempurna ibadah saya,padahal belum tentu umur saya masi panjang.. Semoga dikuatkan iman kita oleh Allah.. Semoga kita te2p istiqamah di jalan Allah..

  6. Wuih… Sejam yg lalu aku baru selesai shalat subuh, setelah hampir 3 bulan gk shalat pasca kecelakaan…
    Dan pas baca artikel ini merinding bang…!!! N ngetik keypad ponsel masih gemetaran…huff…

  7. Subhanallah…..
    Sangat menggetarkan hati saya sekali.
    Memang kematian itu datang kapan saja tidak tau kita lg apa atau lagi berbuat apa.
    Mungkin dengan mengingat kematian kita bisa lebih introfaksi diri bahwa kita hidup pasti akan kembali kepada-Nya dan kita hidup cuma untuk mematuhi peraturan dan larangannya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s