Hukum Berjabat Tangan Seusai Shalat

aq 5u nanya nich hukumnya berjabat tangan sesudah salat gmn?mkch

Jawaban M Shodiq Mustika:

Bila jabat tangan seusai shalat berjamaah itu diperlakukan sebagai ritual (dalam rangka penyempurnaan ibadah shalat), maka menurutku itu tergolong bid’ah yang terlarang. Namun bila jabat tangan tersebut diperlakukan sebagai muamalah (dalam rangka mempererat tali silaturrahim), maka insya’Allah itu tergolong amal yang berpahala, terutama bila kedua orang yang berjabat tangan itu belum bertemu sebelum shalat.

Untuk lebih memahami persoalan ini, silakan perhatikan dua kutipan berikut ini.

Berjabat Tangan Usai Sholat
http://www.nu.or.id/
24/07/2007

Sudah berlaku di masyarakat kita, setelah selesai sholat berjama’ah, satu sama lain saling bersalaman. Apakah itu ada dasar hukumnya, lantas apa faedahnya?

Bersalaman antar sesama muslim memang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan semakin kuat, persatuan semakin kokoh. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk bersalaman ketika bertemu. Bahkan jika ada saudara muslim yang datang dari bepergian jauh, misalnya habis melaksanakan ibadah haji, maka disunnahkan juga saling berangkulan (mu’anaqah).

Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib, Rasulullah SAW bersabda bahwa dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah. (HR Ibnu Majah)

Berdasarkan hadits inilah ulama Syafi’iyyah mengatakan bahwa bersalaman setelah sholat hukumnya sunnah. Kalaupun perbuatan itu dikatakan bid’ah (hal baru) karena tidak ada penjelasan mengenai keutamaan bersalaman usai sholat, maka bid’ah yang dimaksud di sini adalah bid’ah mubahah, yang diperbolehkan.

Imam Nawawi menyatakan, bersalaman sangat baik dilakukan. Sempat ditanyakan, bagaimana dengan bersalaman yang dilakukan usai shalat? Menurut Imam Nawawi, salaman usai shalat adalah bid’ah mubahah dengan rincian hukum sebagai berikut: Jika dua orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat maka hukum bersalamannya mubah saja, dianjurkan saja, namun jika keduanya berlum bertemu sebelum shalat berjamaah hukum bersalamannya menjadi sunnah, sangat dianjurkan. (Dalam Fatâwî al-Imâm an-Nawâwî)

Bahkan sebagian ulama mengatakan, orang yang sholat itu sama saja dengan orang yang ghaib alias tidak ada di tempat karena bepergian atau lainnya. Setelah sholat, seakan-akan dia baru datang dan bertemu dengan saudaranya. Maka ketika itu dianjurkan untuk berjabat tangan. Keterangan ini diperoleh dari kitab Bughyatul Muytarsyidîn.

Jadi bisa disimpulkan, hukum bersalaman usai shalat adalah mubah atau boleh, bahkan menjadi sunnah jika sebelum shalat kedua orang yang bersalaman belum bertemu.

KH. Muhyiddin Abdusshomad
Ketua PCNU Jember, Jawa Timur

Berjabat Tangan setelah Shalat
http://bincang.net/forum/archive/index.php/t-53235.html

Tidak diketahui ada seorang shahabat dan satu pun ulama’ salaf Rahimahullah ‘Alihim jika seusai shalat, mereka menoleh ke arah kanan dan arah kiri sambil bersalaman dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Seandainya mereka memang melakukan hal itu, pasti kita akan menukil berita tersebut dari mereka sekalipun dengan sanad yang dha’if. Begitu juga dengan para ulama’ yang menyelami lautan ‘ilmu, pasti akan dinukilkan berita itu untuk kita. Jika memang riwayat itu ada, pasti mereka semua akan memunculkan banyak sekali hukum tentang masalah ini. (Tamaam al Kalaam fii Bid’ah al Mushaafahah Ba’d al Salaam hal. 24-25 dan di dalam kitab al Masjiid fii al Islaam hal. 225).

Al Muhaddits Syaikh Muhammad Nashirudiin Al Albani berkata di dalam al Silsilah al Shahihah (I/23) sebagai berikut: “Adapun berjabat tangan selepas shalat maka dianggap sebagai sesuatu bid’ah. Kecuali bagi kedua orang yang sebelumnya sama sekali belum bertemu, maka dianggap sebagai perbuatan sunnah.” Al Kanawi berkata: “Selain itu para ulama’ bermadzhab Hanafi, Syafi’i dan Maliki menganggap berjabat tangan seusai shalat sebagai perbuatan makruh dan sebagai bid’ah. Dikatakan dalam kitab al Multaqath: “Berjabat tangan seusai shalat merupakan sesuatu yang dimakruhkan dalam kondisi apapun. Karena para shabat tidak pernah berjabat tangan setelah shalat. Selain itu berjabat tangan seusai shalat termasuk kebiasaan yang dikerjakan oleh orang-orang Rafidhah (syi’ah –pen.).” Dari kalangan madzhab Syafi’i, al Hafidz Ibn Hajar al Atsqalani berkata: “Berjabat tangan yang dikerjakan orang seusai shalat lima waktu merupakan hal yang dimakruhkan. Karena perbuatan itu tidak memiliki dasar dalam syari’at Islam.” (al Si’aayah fii al Kasyf ‘ammaa fii Syarh al Wiqaayah hal. 264).

Sesuatu yang masih diperselisihkan statusnya antara makruh ataukah sunnah, maka dianggap sebagai sesuatu yang tidak boleh dikerjakan. Karena menolak kemudharatan itu lebih diutamakan ketimbang menarik kemaslahatan.

Padahal berjabat tangan (seusai shalat) disangka oleh orang-orang jaman sekarang sebagai sesuatu yang terpuji. Bahkan mereka akan mencela orang yang mencegah perbuatan tersebut.

Mereka tetap saja melakukan hal itu meskipun diingatkan berkali-kali. Padahal mengerjakan sesuatu yang hukumnya sunah secara kontinu bisa mengakibatkan makruh. Bagaimana jika mengerjakan perbuatan bid’ah dan tidak memiliki dasar dalam syari’at secara kontinu? Jika demikian, maka tidak perlu disangsikan lagi bahwa berjabat tangan seusai shalat hukumnya makruh. Inilah tujuan orang yang memfatwakannya sebagai sebuah perbuatan yang dibenci. Padahal sebenarnya hukum makruh ini telah dinukil dari dari para ulama’ pendahulu.

Syaikh Masyhur bin Hasan Salman berkata: “Yang perlu aku peringatkan bahwa seorang muslim tidak boleh memotong atau menghen-tikan tasbih saudaranya sesama muslim kecuali karena ada sebab syar’i. Pada-hal yang banyak kami saksikan dewasa ini, banyak sekali kaum muslimin yang memutus dzikir-dzikir yang disunahkan dibaca saudaranya setelah shalat dengan cara mengulurkan tangan kepada mereka untuk berjabat tangan. Padahal dengan mengajak mereka berjabat tangan berarti telah memutus hubungan tasbih dan dzikir yang sedang dijalin dengan Allah Ta’aala.

Jika memang seseorang pertama kali berjumpa, maka hendaknya kedua-nya saling berjabat tangan dengan lembut dan penuh kasih. Dengan demi-kian sekarang menjadi jelas mengapa berjabat tangan bisa berubah statusnya menjadi sesuatu yang bid’ah. Berapa banyak orang yang pandai memberikan mau’idzah dan ahli memberikan nasehat, namun dia tetap mengerjakan hal yang melanggar sunah ini. (Tamaam al Kalaam fii Bid’ah al Mushaafahah Ba’d al Salaam hal. 23).

Wallahu A’lam Bishshawab

Rujukan:

1. Quthuf minasy Syamailil Muhammadiyati wal Akhlaqin Nabawiyati wal Adabil Islamiyah (terjemahan) Karya Muhammad bin Jamil Zainu.
2. Al Qawl al Mubiin fii Akhtaa al Mushalliin (terjemahan) Karya Abu ‘Ubaidah Mashur bin Hasan bin Salman.

(kedua-dua penulis tersebut adlh murid kpd Imam Al-Albani Rahimahullah)

34 thoughts on “Hukum Berjabat Tangan Seusai Shalat

  1. masalah khilaf kok di perdebat kan ini hanya akan menjadikan umat ter pecah belah .. sudah lah semua biarkan pada pendapat nya toh semua bersandarkan dalil

    • berbeda boleh tapi harus da dalil, tapi bukanya dalil jabat tangan lemah? jadi mnurut saya kalau diskusi kebenaran berdasarkan dalilnya itu harus terus dilakukan.

    • Maaf Dalil yang mana Mas ?
      kalau memang tdk di sunnah kan atau mubah kenepa mereka yg melakukan salaman sebanyak 3x, pertama ketika bertemu sama2 mau msk masjid, Kedua setelah sholat(salam) , Ketiga setelah dzikir bersama. kalau saya pribadi setuju dgn salaman yg Pertama dan salaman yg ke Tiga krn sesuai dgn Hadist yg ada, tapi salaman yg ke Dua ?……(hati2 sobat, saya ingat pesan Pak Ustad :jaganlah kamu melebihi/mengurangi apa yg di ajarkan Rasulullah krn yg di ajarkan Beliau sdh sempurna, kalau anda menambahi ajaran yg tdk diajarkan Rasulullah itu berarti anda berniat menyempurnakan ajaran Rasulullah, astagfirullah, Nabi/Rasul kah anda ???……

  2. Assalammualaikum Wr. Wb.

    Pak Ustadz, klo qta lg shalat berjamaah & qta sebagai ma’mum yg dtg terlambat (misl. lg shalat Dzuhur, qta mulai shalat pada rakaat kedua) apakah sisa rakaatnya diselesaikan sendiri, atau menjadi makmum orang yg datang terlambat jg, yg ada di sebelah kiri qta??

    Satu lagi, apakah boleh kalau wudlu tidak pakai baju ? misalkan, habis mandi trus wudlu, jadi cuma pakai handuk saja,,,,

    maaf kalau salah tempat untuk bertanya, soalnya saya tidak tahu harus masuk ke room mana untuk melakukan tanya jawab,,,

    Terima Kasih,

    Wassalammualaikum Wr. Wb.

  3. 1. Selesai antum sholat jika yang masbuq diajak bersalaman bagaimana?

    2. Imam sedang berdzikir kenapa tidak ada yang mau bersalaman, kenapa mengganggu yang kiri kanan depan belakang, kenapa ga sekalian imam-nya?

    Bersalaman dapat menghapus dosa, ya?

  4. Kadang masalah masalah khilafiyah menjadi hal yang sangat merugikan Islam, bahkan saling bermusuhan antar muslim, dulu NU dan Muhamadiyah tapi sekarang sudah semakin cerdas sehingga yg dipikirkan bagaimana Islam bisa jadi rohmatan lil a’lamin, sekarang muncul lagi Salafy yg menganggap semua orang islam hanya dia yg benar semua bid’ah, sudah lah para ulama pendahulu saja bisa toleransi, kadang kita iri dengan pelajaran PKN di sekolah yg selalu diajarkan toleransi tapi islam yg lebih dulu mengajarkan toleransi malah umatnya jauh dari semua itu, syukron “alittihadu asasu najahi”

  5. salaman itu bagus banget kaleeee…. biar semakin kuat ukhuwah islamiyahnya, biar ga su’uzon ama muslim yang laen, biar ga merasa benar sendiri…setuju ama om apoe….jaga aja persatuan

  6. Kalo habis sholat, trus ngobrol, boleh nggak? kalo jumpalitan, boleh nggak? kalo lari2 keliling lapangan boleh nggak? kalo main badminton, boleh nggak? ada dalilnya nggak?

    • Ya akhi, saya mau nanya ke antum, apakah ngobrol, jumpalitan, lari-lari keliling lapangan, dan main badminton setelah selesai shalat termasuk ibadah? Kalau antum katakan ibadah, ini butuh kepada dalil. Tapi kalau bukan ibadah, maka Alhamdulillah berarti antum sudah paham. Bersalaman sehabis shalat, menurut orang yang melakukannya adalah suatu hal yang hampir-hampir mesti dilakukan, tidak boleh tidak, bahkan mereka mencela orang yang tidak berjabat tangan (ini fakta, bukan khayalan). Kalau menurut antum berjabat tangan sehabis shalat itu baik, tentu ini butuh kepada dalil khusus, bukan dalil umum tentang keutamaan berjabat tangan. Kalau antum campur adukkan antara dalil umum dengan dalil khusus berarti ketika kita shalat pun kita boleh dong berjabat tangan, bukankah jabat tangan itu bagus. Atau kita juga boleh dong membaca Al-Qur`an ketika kita ruku’ atau sujud, bukankah membaca Al-Qur`an itu bagus dan berpahala. Atau ketika kita duduk di antara dua sujud kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad, bukankah shalawat kepada nabi muhammad itu diperintahkan oleh Allah. Jawabnya tentu tidak. Ya akhi, kita beribadah ini sifatnya tauqifiyyah, dan Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini sudah sempurna, tidak perlu ditambah dan tidak perlu dikurangi, barang siapa yang menambah atau mengurangi berarti dia telah membuat syari’at yang baru. Cukuplah Rasulullah sebagai suri tauladan kita. Jika tidak ada keterangannya dari Rasulullah tidaklah boleh kita mengatakan bahwa menurut saya……, menurut saya….., menurut saya ini baik. Masya Allah. Siapa kita, sehingga kita bisa menyandingkan diri kita dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan satu hal lagi, Seandainya perbuatan itu baik tentulah para sahabat nabi telah lebih dahulu mengerjakannya. (Lau Kaana Khoiran Lasabaquuna ilaihi) Peganglah kaidah ini erat-erat. Wallahu a’lam

      • maaf..bagi kami yg melakukan jabat tangan,kami tidak pernah mmpunyai pikiran klo hal itu suatu keHARUSan,akan tetapi kami menganggap klo berjabat tangan adalah hal yg baik,yg bisa menghapus dosa antara yg berjabat tangan.
        secara tak langsung,om ABU sdh suudzon kpd kami yg melakukan jabat tangan setelah sholat.tp biarlah….🙂

  7. denagan bersalaman sesudah shalat berjamaah saya rasa orang akan lebih dekat dan terama rama tamah orang tersebut, karena walaupun sudah bertemu sebelumnya akan tetapi terkadang tidak pernah ngomong maka derngan bersalamna tadi dia akan merasa di hargai dan dfihormati, jd tidak perlu di perdebatkan . syukran

    • Hanya menyampaikan pengalaman, bukan untuk berdebat. Kebanyakan yang saya alami dan rasakan ketika diajak bersalaman oleh yg baru selesai sholat, baru aja saya nyodorin tangan buat nyambut tangannya, eh kepalanya udah melengos nyari “target” salaman lain. Jadi kalo dibilang “ramah-tamah” atau “lebih dekat” sih nggak terasa banget buat saya, malah kesannya seperti “kejar quota” salaman sebanyak-banyaknya.

      • mohon maaf sebelumnya, kalau saya berfikir yg sederhana saja, kalau yg berkaitan dgn ibadah magdho dan ada tuntunan dari Rasul insyhaAllah akan saya kerjakan kalau tdk ya tdk saya kerjakan, dari pada saya di anggap me mintari Rasul, krn Rasul sdh jauh lebih pintar dr pd saya, jadi utk jabatabn tabngabn seusai sholat kalau ada tuntunannya dr Rasul ya saya kerjakan kalau tdk ya tdk saya kerjakan, kalau memang ingin berbuat baik kepada sesama ya monggo2 aja asal jgn di kaitkan/di gabung2kabn dgn urusan ibadah Magdho (yg sdh ada Syariat nya)………………… semoga para pembaca mengerti apa yg saya maksud……..amien ya robbal alamin

  8. hehehe, seru juga nih masih ada orang yang mau ngangkat masalah seperti ini. daripada mikirin hukum salaman setelah sholat, mendingan mikirin gimana caranya supaya orang yang males sholat jadi lebih rajin sholat-nya.

    buat yang masih mengganjal mengenai hukum berjabat tangan setelah sholat, sebenarnya gampang saja, jabat tangan setelah sholat itu khan nga jelas hukumnya, mau jabat tangan silakan mau nga jabat tangan juga nga apa-apa, selama itu tidak diharamkan pilihan ada ditangan kita dan kita tinggal melihat, mana yang lebih banyak memberikan manfaat, selama aturannya tidak jelas, kita tinggal menggunakan logika sendiri untuk menentukan pilihan kita. yang sudah pasti diharamkan setelah shalat adalah mabok, judi, makan babi, dan kegiatan-kegiatan lain yang sudah jelas keharaman-nya.
    jadi pilihan ada ditangan anda, dan yang pasti jangan pernah tinggalkan sholat

  9. Agama itu aturan/tuntunan,
    so Agama Islam itu Aturan Islam
    supaya hidup kita baik & benar.
    Saya yakin kalau Nabi kita
    Muhammad SAW masih hidup
    tidak ada aturan yang kaku,
    kita saja yang membuat aturan itu jadi kaku,
    tidak ada toleransi,
    malah jadi berkelahi.
    Naudzubillah.
    STOP PERBEDAAN,
    STOP PERDEBATAN,
    STOP KEKERASAN,
    OK COY?
    OK DONG!
    OK..OK..OK!
    Saya selalu ingat kisah Sahabat
    yang melakukan ML
    di bulan puasa
    di siang bolong
    dan tak sanggup membayar denda
    dari perbuatannya itu
    Nabi kita hanya tersenyum,
    Subhanallah.
    INDAHNYA ISLAM
    tapi sekarang
    islam vs islam
    masalah hilafiyah
    bakar bakaran
    SEDIH..SEDIH..SEDIH
    mari hidup rukun
    semua kita sama
    dalam hubungan manusia
    hidup itu indah
    jangan rugikan diri sendiri
    jangan rugikan orang lain
    jangan rugikan keluarga
    jangan rugikan tetangga
    jangan rugikan warga
    jangan rugikan negara
    jangan rugikan dunia
    jangan rugikan akhirat
    semoga bermanfaat
    amin

    • Ya akhi, saya mau nanya ke antum, apakah ngobrol, jumpalitan, lari-lari keliling lapangan, dan main badminton setelah selesai shalat termasuk ibadah? Kalau antum katakan ibadah, ini butuh kepada dalil. Tapi kalau bukan ibadah, maka Alhamdulillah berarti antum sudah paham. Bersalaman sehabis shalat, menurut orang yang melakukannya adalah suatu hal yang hampir-hampir mesti dilakukan, tidak boleh tidak, bahkan mereka mencela orang yang tidak berjabat tangan (ini fakta, bukan khayalan). Kalau menurut antum berjabat tangan sehabis shalat itu baik, tentu ini butuh kepada dalil khusus, bukan dalil umum tentang keutamaan berjabat tangan. Kalau antum campur adukkan antara dalil umum dengan dalil khusus berarti ketika kita shalat pun kita boleh dong berjabat tangan, bukankah jabat tangan itu bagus. Atau kita juga boleh dong membaca Al-Qur`an ketika kita ruku’ atau sujud, bukankah membaca Al-Qur`an itu bagus dan berpahala. Atau ketika kita duduk di antara dua sujud kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad, bukankah shalawat kepada nabi muhammad itu diperintahkan oleh Allah. Jawabnya tentu tidak. Ya akhi, kita beribadah ini sifatnya tauqifiyyah, dan Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini sudah sempurna, tidak perlu ditambah dan tidak perlu dikurangi, barang siapa yang menambah atau mengurangi berarti dia telah membuat syari’at yang baru. Cukuplah Rasulullah sebagai suri tauladan kita. Jika tidak ada keterangannya dari Rasulullah tidaklah boleh kita mengatakan bahwa menurut saya……, menurut saya….., menurut saya ini baik. Masya Allah. Siapa kita, sehingga kita bisa menyandingkan diri kita dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan satu hal lagi, Seandainya perbuatan itu baik tentulah para sahabat nabi telah lebih dahulu mengerjakannya. (Lau Kaana Khoiran Lasabaquuna ilaihi) Peganglah kaidah ini erat-erat. Wallahu a’lam

      • om abu sahla yg cakep.. dakwah melalui facebook menurut ku baik…tp knp para sahabat tidak ada yg mencontohkan???? ceramah agama berdiri di panggung menurtku jg baik,tp knp para sahabat jg tidak mencontohkan???
        apa dgn begitu,berrti dakwah lwt facebook n ceramah di panggung merupakan hal terlarang????

  10. Islam itu adalah aturan bersandarkan ilmu Al Qur’an dan hadis, bukan penafsiran masing-masing. Ikutlah aturan yang ada, dan jangan buat aturan sendiri atas nama toleransi. Kelak kita akan ditanya seluruh sandaran perbuatan kita. Hati-hati untuk berkomentar karena apabila ada saudara kita yang salah melangkah karena mengikuti komentar kita, maka kitapun akan diminta pertanggungjawaban kelak. Wallahu alam bisawab

  11. pusing dech!kok pada pinter smua ya,apa bego.namanya aja bersalaman setelah ibadah shalat.berarti sudah diluar kontek dari shalat itu sendiri.gitu aja kok repot.

  12. Komentar yg kurang ilmu koq jd Salah Paham semua.
    Membahas mslh ini Jgn dianggap sbg pemecah persatuan umat. Ini bagian amar ma’ruf nahi munkar.
    Berjabat tangan itu sangat baik. Tp berlakulah adil, jgn menempatkan sesuatu bkn pd tmpatnya. Membaca alquran jg sangat baik tp hrs tepat ruang n waktu. Jd menurt sy bjabat tangan baik tp jgn digabungkan ke dlm ritual ibadah yg mana beranggapan seakan2 kurang smpurna bl tdk bjabat tangan.

    • om ady… kami yg melakukan jabat tangan setelah sholat,tidak pernah sdikitpun merasa klo hal tsb(berjabat tangan)adalah penyempurna ibadah sholat.
      jangan suka suudzon dong om…dosa tau.. hehehe.

  13. Perbedaan yang selalu dibahas/dibicarakan dengan berbagai macam dalil tidak akan pernah memecah belah umat karena tidak ada paksaan kepada siapapun utnuk mengikuti salah satu pendapat yang berbeda tersebut. Janganlah didramatisir seolah-olah membicarakan perbedaan itu akan memecah umat. Menurut pemahaman saya, dalil pelaksanaan sholat adalah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang diikuti oleh para Sahabat. Karena Rasulullah SAW dan para Sahabat tidak pernah bersalaman seusai sholat fardhu ya kita tidak usah melakukannya. Pada saat kita sudah selesai berdo’a dan akan melanjutkan aktifitas yang lain yang berarti sholat kita sudah benar-benar selesai dan masih ketemu orang lain yang juga sudah selesai sholatnya dan beranjak akan meneruskan aktifitasnya, saat itulah kita menggunakan kaidah umum tentang hukum bersalaman maka kita bisa saja bersalaman karena sudah benar-benar selesai dari seluruh ranakaian sholat kita. Wallahu alam bisawab.
    Sekali lagi jangan dikebiri kebebasan berpendapat dengan tameng akan memecah belah umat. Biarkan masing-masing individu menentukan pilihannya sendiri dan kitapun juga lebih baik instropeksi diri dari pada menghujat orang lain.

  14. kalau memang tdk di sunnah kan atau mubah kenepa mereka yg melakukan salaman sebanyak 3x, pertama ketika bertemu sama2 mau msk masjid, Kedua setelah sholat(salam) , Ketiga setelah dzikir bersama. kalau saya pribadi setuju dgn salaman yg Pertama dan salaman yg ke Tiga krn sesuai dgn Hadist yg ada, tapi salaman yg ke Dua ?……(hati2 sobat, saya ingat pesan Pak Ustad :jaganlah kamu melebihi/mengurangi apa yg di ajarkan Rasulullah krn yg di ajarkan Beliau sdh sempurna, kalau anda menambahi ajaran yg tdk diajarkan Rasulullah itu berarti anda berniat menyempurnakan ajaran Rasulullah, astagfirullah, Nabi/Rasul kah anda ???……

    • Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

      menangapi Hadist diatas memang hukum berjabatan tangan itu disunahkan, terkait dgn ritual ibadah wajib (Sholat fardhu) apakah harus usai salam, karena ada perintah utama usai salam adalah berzikir bukan bersalaman, jadi bersalaman akan lebih baik dilakukan usai berzikir, jujur aja dlm setiap sholat berjamaah ada 3 x bersalaman, 1. sebelum sholat(saat pertama bertemu) 2. usai salam 3. usai berzikir. utk para pemaham Hadist tolong ajari orang awam dengan pemahaman dgn benar jgn mengedepankan salah satu golongan (organisai islam) Allah Maha Tau kok apa niat kita !!!!!

  15. niat baik malah menjadi PETAKA……..
    ……, NIAT MEMBERI TUKAR ILMU MALAH PERANG MULUT, JADI TIMBUL PERPECAHAN BRO,
    YANG PASTI MENURUT SYARIATNYA WAE……….., APA SHOLAT ITU DAN APA YANG TIDAK DIANJURKAN DALAM SHOLAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s