3 – Arungi Makna Salat

Last Updated: 9 April 2007

First Published: 10 Maret 2007

Arungi Makna Shalat

Selain tata ucap (atau tata vokal) bacaan shalat, tata simak bacaan shalat pun memperlihatkan kehebatan shalat dalam mencerdaskan kita. Dengan tata simak ini, kita sekurang-kurangnya mengarungi makna shalat melalui empat jalan:

1.     sistematiskan pikiran di dalam shalat; (Dengan jalan ini, kita menyimak kata-kata bacaan shalat dengan pikiran yang tertata, tidak sekadar menangkap gelombang suara ucapan bacaan itu dengan telinga.)

2.     simak bacaan shalat secerdas-cerdasnya; (Dengan jalan ini, kita tidak hanya menangkap suara bacaan, tetapi juga menangkap isinya.)

3.     kreatifkan pikiran di dalam shalat; (Dengan jalan ini, kita tidak hanya menyimak isi bacaan shalat, tetapi juga menyimpulkan maknanya.)

4.     tanamkan makna shalat sekokoh-kokohnya. (Dengan jalan ini, kita tidak hanya menyimpulkan maknanya, tetapi juga menanamkannya ke dalam benak.)

Makna 

Di antara lima bagian S.M.A.R.T., bagian “A” inilah yang tampaknya paling asing. Bandingkan saja. Unsur-unsur bagian “S” dan “M” telah mentradisi di kalangan kita terutama melalui ilmu fiqih. Unsur-unsur bagian “R” dan “T” sudah membudaya di tengah-tengah masyarakat terutama melalui ilmu akhlaq atau tasauf. Bagian “A”? Belum lazim!

Padahal, bagian tengah inilah yang menjadi pendamai antara kutub fiqih dan kutub tasauf yang selama ini sering saling berselisih. Bagian “A” inilah “benang merah” penghubung antara bagian “S” dan “M” di satu kutub dan bagian “R” dan “T” di kutub lain. Bagian inilah yang menyempurnakan sistem shalat kita, sehingga menjadi cerdas dan mencerdaskan sepenuhnya. Dengan demikian, jelaslah betapa penting bagian “A” ini.

Hanya saja, penerapannya dalam shalat kita barangkali menemui kendala yang tidak ringan. Mungkin karena masih belum lazim, “Arungi Makna Shalat” merupakan bagian S.M.A.R.T. yang paling berat untuk diterapkan. Apalagi bagi sebagian di antara kita yang kecerdasan logis-matematis dan linguistiknya kurang menonjol atau jarang ditonjolkan. (Dua jenis kecerdasan inilah yang paling relevan dengan bagian “A”.) Akan tetapi, dua jenis kecerdasan itulah yang saat ini mendominasi tantangan kehidupan kita di zaman sekarang. Hampir semua sekolah dan pekerjaan formal menuntut pengerahan kecerdasan linguistik dan logis-matematis.Oleh karena itu, kalau tidak mau tergilas zaman, tetapi ingin berjaya, maka bagian “A” ini harus kita beri perhatian istimewa. Kendati terasa agak berat, saya mengharap kita menaruh perhatian ekstra pada bagian ini.Ingat, Anda pun berbakat cerdas. Manfaatkanlah bakat Anda itu! Dengan memanfaatkannya, Anda pun mampu melejitkan kecerdasan logis-matematis dan linguistik melalui penerapan bagian “A” dalam shalat Anda.

Kalau terasa agak berat ketika menempuh bagian ini, Anda hanya perlu sedikit waktu ekstra dan pikiran yang agak lebih dipertajam daripada ketika menaruh perhatian pada bagian-bagian lainnya. Bila perlu, jalanilah sedikit demi sedikit saja supaya Anda tidak merasa terlalu berat. Oke?

4 thoughts on “3 – Arungi Makna Salat

  1. Saya acap terganggu oleh kesadaran bahwa sebagian ucapan kita – dalam shalat – adalah kebohongan. Saya mengatakan “sungguh shalatku, ibadahku, hidup-matiku adalah bagi Allah” namun kata-kata ini ternyata dusta. Begitu pula kalimat “Hanya kepadamu kami mengabdi dan meminta”. Padahal saya tahu bahwa saya juga mengabdi kepada banyak oknum lain. Meminta kepada “tuhan” lain.
    Kumaha atuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s