Imam sudah ditegur, masih lakukan kesalahan; bagaimana?

Tanya: Assalamu’alaikum. Kewajiban makmum (laki-laki) ketika seorang imam melakukan kesalahan dalam rakaat salat adalah mengucapkan ‘subhanallah’. Pertanyaan saya, apabila makmum mengucapkan subhanallah, tetapi imam meneruskan rakaat-rakaat berikutnya (ucapan makmum subhanallah tidak terdengar oleh imam). Apakah kita sebagai makmum terus mengikuti gerakan imam atau kita (makmum) harus diam? Wassalamu’alaikum. (Heri Susanto, nazt2413@yahoo.com)

Jawaban Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an:

Dalam keadaan seperti itu, ada dua pilihan bagi makmum; (1) mengikuti imam apa adanya; (2) mufaraqah, yakni makmum memisahkan diri dari imam. Pilihan (1) lebih baik daripada pilihan (2). Demikian, wallahu a’lam.

(Asep Usman Ismail, Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an)

Bershalat Sambil Memegang Mushhaf Al-Qur’an

saya sudah membaca buku anda. bagus, itu saja yang bisa saya katakan. tapi bukan masalah bagusnya. seperti saran anda, kalo mau praktek disesuaikan dengan kepribadian kita. kayaknya yang cocok dengan saya yach yang arungi makna salat. karena saya orang kuper, susah ngomong, telmi. tapi saya yakin, dengan praktek salat smart ini bisa meningkatkan taraf hidup saya dan kecerdasan saya.
yang menarik dari buku ini adalah tentang membaca mushaf dalam salat. saya termasuk susah kalo harus hapalan surat apalagi saya cuma hapal 10 surat saja. jd yg sy bc ya hanya itu2 aja. cuma sya ini berkcmata tebal. jd apa boleh mushaf dipegang ketika berdiri dlm solat.tp saya jga menerapkan bc 2x, 8x mengingat.
sy ini agak budeg jd agak ksulitan mendengar azan dari masjid. apa boleh mjawab azan di tv?sy tdk pernah kmasjid kcuali ramadhan.
terus saya ini cewek muslim ktp, baru satu tahun ini salat. skr 27 thn. dan saya mulai solat karena saya ingin kaya. dari situ saya merasa salat sy bukn krn allah. tp stelah mbc buku anda, sy mengerti meski agak takut2 jg salat saya gak dterma.
sy cm mau mengucapkan syukron krn anda dah menulis buku hebat ini.
tolong ptanyan saya djwb.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Terima kasih atas pujiannya. Jawabanku: sebagian besar ulama membolehkan kita untuk bershalat sambil memegang mushhaf Al-Qur’an, terutama dalam shalat sunnah. Sebagian kecil ulama melarangnya. Aku berpegang pada yang membolehkannya. Sungguhpun demikian, yang aku kutip di bawah ini tidak hanya pandangan yang membolehkan, tetapi juga yang melarangnya. Baca lebih lanjut

Wajibkah Penyeragaman Cara Shalat?

Saat kutempuh latihan ujian praktek shalat sewaktu SMP, mulanya aku menggunakan cara shalat ala Muhammadiyah. Namun oleh guruku, yang kebetulan beraliran NU, cara shalatku dinilai salah. Aku diminta mengulangi shalatku. Berhubung aku ingin lulus, ya kupenuhi saja permintaannya, tapi khusus untuk latihan dan ujian itu saja. Dalam praktek sehari-hari, aku tetap menggunakan cara Muhammadiyah.

Saat ini, kecenderungan untuk menyeragamkan cara shalat mungkin masih berlangsung di sekolah-sekolah oleh guru-guru yang bersangkutan. Aku merasakannya ketika putri sulungku, kelas 3 SD, mengkritik salah satu cara shalatku. Baca lebih lanjut

Shalat Sunnah Tidak Perlukah Perhitungan?

Saat blogwalking tadi, kujumpai sebuah tanya-jawab yang menarik. Pertanyaannya: “Ustadz, saya mohon penjelasan mengenai hukum melaksanakan shalat sunnah awal & akhir tahun serta shalat sunnah rajab, karena di tempat saya shalat itu marak dilaksanakan. Saya sendiri dulunya termasuk orang yg melaksanakan, kemudian saya mendapat keterangan dari teman saya yg mesantren di beberapa pesantren di Garut dan Sukabumi serta Cianjur bahwa hukum hadistnya maudlu’ ( sangat dhoif ) sehingga tidak boleh dipakai menjadi dasar hukum dia juga memperlihatkan referensi dari dua kitab yaitu Fathl Mu’in dan Kifayatul Akhyar yang setahu saya itu kitab fiqh yg mu’tabar. Itu menjadi konflik di hati saya karena selama ini saya melaksanakan berdasarkan kitab tasawwuf ( qhoniyyah /ghunyah dan khozinatul asror ), menurut ustadz pendapat mana yg harus saya ikuti…?”

Baca lebih lanjut

Mengapa hanya menyebut nama Muhammad dan Ibrahim dalam shalawat

“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Baca lebih lanjut

Haruskah makmum membaca Al-Fatihah?

Bolehkah Kita Tidak Membaca Surat Al-fatiha Pada Sholat Berjama‘ah

Assalamualaikum.wr.wb Pak ustadz yang saya hormati saya mau bertanya tentang kewajiban kita memabca surat Al-fatiha dalam sholat berjama‘a, karena saya pernah membaca bahwasanya kalo di bacakan ayat-ayat Al Qur‘an kita harus diam dan menyimak.ini saya kaitkan dng sholat berjama‘a dimana ketika imam selesai membaca surat Al-fatiha langsung di lanjutkan dng ayat-ayat Al Qur‘an yang lain, biasanya saya di sela-sela saat kalo imam berhenti sebentar saya baca surat Al-fatiha tetapi biasanya kalo imam langsung membaca ayat-ayat ALQur‘an yang lain biasanya konsentrasi saya jadi buyar dan malah sering salah-salah dalam membacanya yang akan saya tanyakan apakah kewajiban membaca surat Al-fatiha dalam sholat berjama‘a bagi ma‘mum tetep di wajibkan kalo enggak gimana dengan syarat syah nya sholat, kan harus membaca surat Al-fatiha? Demikianlah pertanyaan dari saya atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih .

Baca lebih lanjut